Select Menu
Select Menu

Favourite

Jawa Timur

Wisata

Donasi Untuk Palestina

Culture

Transportasi Tradisional

Rumah Adat

Bali

Pantai

Seni Budaya

Kuliner




 Salah satu hal yang menjadi daya tarik dari acara Uji Nyali yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta adalah pembuktian adanya energi mistik di sekitar tempat uji nyali. Salah satu bukti keberadaan energi mistik itu adalah ditemukannya banyak orbs di sekitar tempat uji nyali. Orbs yang muncul dari kamera di acara televisi tersebut biasanya berbentuk lingkaran penuh dengan pola melingkar di tengahnya dan berdiameter antara 2 sampai 20 milimeter.
Orbs diyakini oleh banyak paranormal sebagai bola-bola hantu yang tertangkap oleh kamera. Banyak pula orang awam yang meyakini bahwa orbs adalah kumpulan bola-bola roh manusia. Sehingga, banyak orang awam dan sebagian paranormal yang meyakini kemunculan orbs dengan tempat-tempat yang dipercaya dihuni oleh makhluk halus, seperti kuburan dan rumah kosong. Apabila kumpulan bola ini berkumpul sangat banyak, maka akan terjadi penampakan hantu. Oleh karena itu, paranormal meyakini bahwa sebelum terjadinya penampakan di dahului dengan dua tahap pra-penampakan, yaitu; tahap orbs dan tahap ectoplasma.
Tahap ectoplasma merupakan tahap kedua setelah tahap orbs. Tahap ini biasanya ditandai dengan munculnya sebuah bayangan asap yang memanjang. Pada tahap ini energi yang dikeluarkan oleh hantu lebih besar daripada tahapan orbs. Energi yang dikeluarkan sangat besar, nyaris mendekati bentuk sempurna. Sedangkan tahap paripurnanya adalah tahap vorteks atau tahap penampakan. Pada tahap ini, energi hantu dapat menampakkan wujudnya. Biasanya berwujud manusia, binatang atau bayangan putih dan hitam. Orang dapat membagi wujud vorteks berdasarkan bentuknya, dapat berupa pocong atau kuntilanak.[1]
Khusus tentang penampakan sudah dibahas dalam beberapa bab dalam buku ini, maka disini akan dibahas tentang orbs dan ectoplasma. Orbs sebagaimana penerawangan paranormal, dinyatakan sebagai bola-bola hantu. Tetapi pernyataan ini dapat kita selidiki tentang kebenarannya. Apabila benar bahwa orbs adalah bola hantu, kenapa kemunculan orbs selalu berada di depan obyek kamera? Orbs tidak pernah muncul berada di balik benda yang menjadi sudut bidik kamera. Hal ini dapat dilihat dari beberapa contoh photo berikut ini;



Semua bola tersebut adalah bola jenis semi transparan. Dan sangat mungkin, bola-bola itu terbentuk karena adanya partikel kecil berupa debu atau partikel uap air, yang memantulkan cahaya blitz dari kamera. Pantulan cahaya dari debu karena dipantulkan di semua arah dari partikel, maka akan berbentuk lingkaran transparan[1]

Pada gambar percobaan di atas, sinar flash ditempatkan jauh dari kamera dan berada di atas kamera, dengan sinar flash yang didekatkan dekat dengan kamera. Lensa sinar flash yang didekatkan dengan kamera, ternyata mampu menghasilkan orbs lebih banyak daripada sinar flash yang diletakkan jauh dari kamera.[1]
Menyadari dari kelemahan dari kepercayaan bahwa semua orbs adalah butiran-butiran setan, maka paranormal di dunia Barat, membedakan antara orbs yang benar-benar berasal dari roh manusia, dan orbs yang berasal dari partikel debu atau air.  Berikut ini adalah contoh-contoh dari orbs tersebut.[2]

Orbs yang sering muncul di acara “Uji Nyali” bukan contoh dari orbs jenis kedua, melainkan jenis orbs pertama, yaitu orbs yang berasal dari partikel air atau debu. Dan hal ini diyakini oleh paranormal Barat. Apabila, sebuah partikel alam diyakini sebagai partikel hantu oleh paranormal uji nyali, pertanyaan yang perlu diajukan adalah buat apa ‘penerawangan’ yang mereka lakukan jika mereka tak dapat membedakan mana natural orbs dan mana spirit/ghost orbs?
Adalah Mark Kimura, salah seorang peneliti dari Paranormal Research Investigation, yang membedakan dua jenis orbs tersebut. Ciri dari spirit orbs sebagaimana dikemukakannya adalah;
1. Orbs dapat muncul meski kamera tidak memakai flash.
2. Orbs tidak mempunyai pola melingkar didalamnya.
3. Warna Orbs dapat bermacam-macam.[1]
Banyak model spirit orbs yang berhasil dipotret. Tetapi hal itu masih dapat dibuktikan keakuratan dan keaslian photonya. Karena pemalsuan orbs dapat pula dilakukan dengan mudah, sebagaimana pemalsuan-pemalsuan gambar penampakan hantu sampai penampakan monster lonchness.


A.                Kenapa Orang Mengalami Rasa Takut?
Ketakutan setiap saat terjadi dalam kehidupan kita. Sedari kecil, kita selalu berhadapan dengan perasaan ini. ketika kita terlambat masuk sekolah, kita akan merasa takut dihukum. Tidak mengerjakan PR, kita akan takut dimarahi Pak Guru. Ketika nakal, kita takut dimarahi orang tua. Terkadang kita juga takut atau cemas tentang nasib kita ke depan. Rasa takut merupakan hal alami dan terjadi oleh semua orang. Tidak ada seorang pun di dunia ini, yang tidak pernah merasakan takut, seberani apapun orang itu. Orang yang dikatakan pemberani adalah orang yang dapat meminimalisir perasaan takut itu sekecil mungkin.

Rasa takut adalah bagian dari emosi kita juga, sebagaimana bersedih. Dan setiap emosi pasti menimbulkan gejolak fisik tertentu. Pasti ada bagian tubuh kita yang terpengaruh terhadap perasaan kita walau itu sangat kecil. Orang yang sedih misalnya, mungkin ia tidak mengeluarkan air mata, tetapi dilihat dari mimiknya, sinar matanya kelihatan suram. Begitu juga rasa takut, pasti menunjukkan perbedaan-perbedaan pada bagian tubuhnya. Orang yang takut, tubuhnya mungkin saja bergetar dan gugup. Ia sulit menyusun sebuah kalimat yang baik, kacau balau dan sering salah ucap, bulu kuduknya berdiri, dan tidak berani melihat obyek ketakutannya.

Banyak alasan kenapa orang tersebut takut. Misalnya takut terhadap apapun yang berpotensi membahayakannya. Misalnya orang takut naik motor dengan cepat, karena takut terjadi kecelakaan. Orang takut berenang di sungai, karena takut tergigit ular. Kita takut bergaul dengan seseorang, karena takut kita akan disakiti hati kita.

Oleh karena itu, menurut obyek penyebabnya, rasa takut dapat digolongkan menjadi empat macam rasa takut;

1.      Takut yang berhubungan dengan kejadian interpersonal atau interaksi sosial, misalnya takut malu, takut berkonflik, takut disakiti hatinya, takut dikritik, dsb
2.      Takut karena permasalahan eksistensial, misalnya takut akan kematian, takut cacat permanen, takut terluka dsb
3.      Takut yang berhubungan dengan tempat; takut ketinggian, takut kecepatan, takut tempat gelap, takut kesendirian, dsb

Takut merupakan akumulasi dari perasaan cemas. Dan cemas dikaitkan dengan ketidaktahuan apa yang terjadi ke depannya. Misalnya orang yang merasa cemas apabila memasuki gua yang tidak belum pernah terjamah. Ia tidak tahu apa yang terjadi apabila memasuki gua tersebut. Ketika seseorang itu memasukinya, ketika keluar dan tidak terjai apa-apa, orang tersebut akan merasa sangat lega. Rasa lega tidak hanya karena terpenuhinya kebutuhan, melainkan juga dikarenakan karena terhindar dari apa yang ditakutkannya. Apabila anda merasa cemas berada di sebuah rumah yang dianggap angker, dan anda harus tidur didalamnya selama semalaman, anda akan merasa lega, anda telah bermalam di dalamnya dan terhindar dari “penampakan” hantu. Dengan perasaan takut ini, maka setiap aktivitas manusia untuk selalu memperhitungkan berbagai keadaannya, sehingga dapat menghindari dari bahaya yang ada di depannya. Jadi takut merupakan bagian bagian dari respon manusia dalam mempertahankan diri.
Dari beberapa point diatas, kita dapat melihat bahwa yang dinamakan takut, terjadi karena beberapa hal, yaitu;

1.      Kita takut karena akan mengetahui bencana fisik yang akan terjadi pada diri kita.
2.      Kita tidak tahu bencana apa yang akan terjadi pada diri kita nanti (misalnya ketika memasuki gua)
3.      Kita takut terhadap akibat-akibat yang telah dihasilkan oleh tindakan kita
4.      Kita takut terhadap hal-hal yang tidak jelas (phobia), misalnya takut menghadapi mayat sendirian.

B. Takut Hantu
Hantu selalu dihubungkan dengan kematian. Hal ini berlaku pada kebudayaan mana saja. Ini lah kenapa kita menyatakan bahwa makhluk UFO bukan lah hantu, walaupun ia bisa menghilang dan misterius. Tetapi UFO tidak lah melambangkan kematian. Coba bayangkan saja, apabila apa yang selama ini kita kenal sebagai UFO tidak berbentuk piring terbang melainkan berbentuk keranda mayat, mungkin kita akan menyebutnya sebagai hantu. Karena hantu selalu berhubungan dengan kematian, dan di sisi lain selalu ditemukan dalam budaya apa saja, dan wujud Hantu selalu berkaitan dengan budaya. (misalnya Vampir China yang berjalan juga melompat-lompat, tidak berkain kafan, melainkan memakai pakaian hitam a la China), maka kita perlu “curiga” (kritis), bahwa yang dinamakan hantu tidak lepas dari apa-apa yang kita fikirkan.

Kenapa hantu selalu berkaitan dengan kematian?? Apabila anda ditanya, takutkah anda kepada kematian apabila kematian datang kepada anda besok hari? Jawaban terbaik yang sering kita berikan adalah mencoba menghindar dari pertanyaan tersebut. Entah dengan tertawa, entah dengan membalasnya dengan guyonan atau bahkan dengan mengabaikan pertanyaan tersebut. Padahal, siapapun yang jelas tahu, yang dinamakan kematian itu PASTI AKAN DATANG, cepat atau lambat terjadi kepada diri kita masing-masing. Dan KEMATIAN adalah keyakinan yang tak pernah terbantahkan. Walau KEMATIAN, selalu diabaikan dalam kehidupan kita, tetapi kita mengabaikannya dalam kesadaran kita, tetapi ingatan akan kematian akan menumpuk dalam alam bawah sadar kita.

Ketakutan dan kecemasan akan kematian yang menumpuk dalam alam bawah sadar kita, akan menyebabkan kecenderungan-kecenderungan emosi tertentu. Misalnya Phobia (ketakutan tanpa alasan yang jelas) terhadap mayat. Dapat anda bayangkan, apabila anda berkesendirian dengan orang mati lengkap dengan kain kafannya. Apabila kita takut, maka hal itu wajar terjadi, karena tiap orang juga memiliki kecenderungan untuk takut terhadap simbol-simbol kematian. Yang perlu diperhatikan adalah, bagaimana phobia itu dapat terjadi? Kenapa kebanyakan orang takut sendiri di tengah kuburan malam-malam? Yang jelas, mereka tidak hanya takut apabila bertemu dengan hantu saja, melainkan merasakan kecemasan mendapati dirinya diantara puluhan nisan. Banyak dari pakar psikoanalisa menyatakan bahwa insting setiap orang adalah menghindari kematian. Ketakutan (phobia) terhadap hal ini dikaitkan dengan sifat dasar kita, yaitu takut akan kematian.

Orang yang takut (Phobia) terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kematian dinamakan sebagai Thanatophobia. Thanatophobia ini dialami oleh sebagian besar orang dengan tingkatan yang berbeda-beda. Karena banyaknya orang yang menderita thanatophobia ini baik dengan skala kecil atau besar, maka hal ini tidak dikatakan abnormal. Walaupun di sisi lain, hal ini adalah jenis gangguan (disorder) kepribadian. Nama lain yang sering diberikan adalah Phasmophobia.

Phasmophobia adalah penyakit takut hantu. Phasmophobia berasal dari kata “Phasmo” (Penampakan) dan Phobia (takut), artinya takut terhadap penampakan-penampakan hantu. Phasmopobhia sering disebut dengan Spectrophobia atau Pneumatophobia (takut roh), Demonophobia (takut demon/setan), atau sering juga disebut Wiccaphobia (takut ilmu sihir). Banyak  sekali ragam orang takut terhaap hantu, sehingga banyak istilah-istilah psikologi yang merujuk pada “takut hantu”.  Gejala yang dialaminya adalah ketakutan terus menerus terhadap hantu, dan mengalami kecemasan tak semestinya, meskipun mereka menyadari bahwa ketakutan mereka adalah irasional. Orang yang mengalami phasmophobia ini mereka takut keluar tengah malam sendirian di tempat yang sepi karena takut bertemu dengan hantu, mereka takut dengan rumah kosong, takut ke hutan, atau cepat bereaksi terhadap gerakan-gerakan dari benda-benda ketika mereka berada dalam kesepian di malam hari.

Takut terhadap hantu ini bervariasi sesuai dengan tingkatannya. Banyak yang percaya adanya hantu, tetapi dalam kehidupan kesehariannya tidak begitu mempedulikan kemunculannya, sehingga ia berani. Ada pula yang mempercayai keberadaannya, dan takut untuk bertemu dengannya, banyak juga yang mempercayai sepenuhnya bahkan menyediakan sesajen disertai sikap takjub sekaligus takut terhadap hantu. Orang-orang berkarakter demikian sering kita jumpai dalam kehidupan sosial kita keseharian. Tetapi, orang yang dikatakan mempunyai jiwa normal adalah tidak takut terhadap apa-apa yang tidak membahayakan dirinya. Banyak cerita hantu, bahkan sekalipun dari seorang pencerita hantu, tetapi mereka tidak pernah menceritakan dikejar-kejar hantu sampai mau dibunuh oleh hantu sebagaimana di film-film hantu di Indonesia. Hampir di semua film Hantu di Indonesia, peran utamanya akhirnya meninggal gara-gara hantu (ambil contoh termudah, dalam film “Sarang Kuntilanak”). banyak orang yang takut hantu, tetapi setelah melihat film-film itu semakin takut. Mereka semestinya berfikir, bahwa hantu dalam jenis apapun tidak pernah mencekik orang hingga orang tersebut tewas. Yang ada hanya ketakutan-ketakutan, dimana “takut” itu disebabkan faktor fikiran belaka, bukan obyek kemunculannya. Sebab takut akan hadirnya harimau hal yang wajar, tetapi takut sama harimau ditimbulkan dari fikiran.

Sama dengan Hantu, tetapi berbeda dengan takut bertemu harimau, ketakutan akan hantu ini disebabkan keseraman. Tetapi “seram” ini bukan berarti tidak dihadirkan oleh fikiran kita. Kita bisa mimpi seram bukan? Bahkan kita tidak dapat memilih mimpi apa yang hadir pada diri kita. Kita bisa bertemu dengan hantu paling menyeramkan sekalipun dalam mimpi. Tetapi, yang dinamakan mimpi itu adalah ketika otak kiri kita beristirahat, dan kesadaran kita pun turun. Ketika hal itu, maka berbagai gambaran dalam alam bawah sadar kita muncul dan menghasilkan gambar-gambar, termasuk gambaran tentang nenek atau orangtua kita yang telah tiada. Dan setelah bangun, kita pun akan menafsirkannya bahwa kita telah didatangi oleh arwah  orangtua yang kita kasihi. Padahal, mimpi itu menggambarkan apa yang alam bawah sadar kita munculkan. Jadi, tidak lah aneh, apabila kita jarang sekali bermimpi bertemu dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal, kecuali dengan gambaran orang tersebut yang samar.

(NB: Tetapi ada pula mimpi yang bukan berasal dari alam bawah sadar, misalnya tentang kisah Mimpi Nabi Yusuf as, tetapi mimpi jenis ini sangat jarang terjadi, kecuali kepada orang-orang sholeh dari para auliya')

Andaikan “penampakan-penampakan” terjadi dalam diri kita tiap hari ketika kita lelap tertidur, kenapa kita masih takut dengan penampakan-penampakan ketika kita sadar? Andaikan terjadi penampakan ketika kita tidak tidur, bukan berarti itu penampakan dari luar diri kita. Karena apapun bayangan yang muncul itu berasal dari otak kita. Anda tidak pernah mengalami apapun apabila anda dalam posisi buta, tuli, atau semua pancaindra anda mati semua sejak lahir. Karena tidak ada apapun yang merangsang fikiran anda dalam membentuk bayang-bayang. Dan tidak semua bayang-bayang yang dihasilkan oleh stimulasi yang sampai ke mata lalu dilanjutkan ke otak, itu dihasilkan dari saat ini. memori-memori penglihatan masa lampau, dapat juga memunculkan bayangan. Tidak hanya ketika anda tidur, melainkan juga pada saat anda sadar. Jadi jangan heran apabila penampakan yang sering terjadi, kalau tidak berwarna putih atau berwarna hitam. Tidak pernah berwarna hijau, kuning atau merah bak lampu lalu lintas.

Karena segala bayangan adalah reaksi-reaksi bio-kimiawi dalam otak kita, maka jangan heran apabila banyak ungkapan yang menyatakan; “Fikiran adalah Dunia Anda”, “apapun yang terjadi yang penting fikirannya tenang”, dan banyak sekali ungkapan-ungkapan semisal itu. Seorang filsuf ternama, Rene Descartes, malah menyatakan bahwa Dunia apapun yang kita alami adalah fikiran. Dalam dunia filsafat ada aliran “Representation”, yaitu sebuah paham yang menyatakan bahwa segala materi dan peristiwa itu adalah fikiran. Jadi andaikan bertemu dengan sapi maka itu dianggap sebagai fenomena fikiran, begitu juga apabila bertemu dengan hantu juga dianggap sebagai fenomena fikiran. Anggapan memang terkesan logis, walaupun pendapat demikian sangat sulit diterima. Tetapi ada letak keuntungannya apabila kita juga berkeyakinan demikian, setidaknya kita takkan lagi takut menghadapi apa yang sering disebut dengan hantu. Karena hantu hanyalah fenomena fikiran sebagaimana lainnya.



 Ditulis pada 8 Juni, 2010

Sebagai Pembuka Tulisan ini, coba deh kita renungin dulu .. Kenapa perfilman kita akhir-akhir ini banyak berkisah tentang hantu.  Bahkan sekarang ini kita juga perlu ilmu taksonomi hantu. Kalo dulu kita hanya tau kalo jenis2 hantu itu ada pocong, kuntilanak, suster ngesot, tapi kalo sekarang jenis-jenis hantu itu dibagi lagi menjadi beberapa jenis. Misalnya Hantu Suster, terbagi menjadi beberapa kategori dari hantu suster ngesot, suster bolong, suster N, suster keramas, suster ngepott .. Nah kalo pocong ada banyak juga ada Pocong 1, Pocong 2, Pocong 3 .. begitu juga dengan kuntilanak .. ada kuntilanak 1-3… hihihihihihi…

Klo nggak salah dulu rentetan film hantu di Bioskop diawali dengan film “Jelangkung”.. setelah itu banyak rentetannya juga .. dari Susuk Jelangkung, Jembatan Semanggi, dsb.

dah tentu para prosedur.. ehh keliru ma’af.. maksudku produser film2 itu (hehehehe).. mempunyai pertimbangan tersendiri kenapa milih cerita hantu. Entah mereka percaya ma hantu apa nggak itu nggak penting,, yang penting mereka percaya bahwa mengangkat cerita hantu ke layar lebar akan mendapatkan keuntungan bisnis yang relatif lebih besar. Namanya aja orang dagang,, so harus kreatif dong bagaimana caranya agar dagangannya itu banyak dibeli orang  .. tul nggak??

Nah .. kalo kamu menjual es di kutub selatan.. kagak bakalan orang yang mau beli kan? begitu juga perfilman hantu .. kalo hantu itu tiap hari nongol di depan kita kayak di film2 itu,, film hantu kagak bakalan menarik. ya namanya aja barang sedikit, barang sedikit itu ya cenderung tinggi nilai harganya. Begitu juga dengan hantu, karena sedikit sekali kemunculannya, kalo muncul sekali maka ribuan mulut akan menceritakannya. Entah yang muncul itu hantu beneran atau hantu salah sangka aja.. hehehehe

Menurut kata orang sih, yang namanya hantu itu sering nongkrong di tempat sepi, gelap, rindang, dan tidak pernah dilewati manusia nah.. kalo tempat seperti itu dihuni oleh hantu, maka tempat itu tampak menjadi menyeramkan.  (yang namanya aja tempat kayak gituan.. entah ada hantunya atau enggak ya bakalan seremm ..  tapi lebih serem lagi klo tempat kayak gituan dihuni oleh para preman.. koz mereka itu dah pasti nganggu orang lewat!!). Coba aja bayangin kalo kuburan itu bertempat di tengah pasar yang 24 jam ramai melulu,, dan gak ada orang tau klo di bawah mereka itu ada orang yang dikubur yang mati karena bunuh diri. Gak bakalan serem kan?? hehehehe

mboohh lahh.. ora dong masalah ngono kuwi.. mending kembali ke tema semula aja ya! (tapi tema-nya apa ya.. hehehehe ternyata aku juga belom nyiapin temanya.. kalo sekedar judul sih.. ya di atas ituh ,, )

entah ada atau enggak ada.. yang jelas hantu itu sangat menarik untuk dibicarakan. Entah ama orang yang percaya atau orang yang tidak percaya ma hantu. Nggak percaya kan?? buktinya tuh orang yg gak percaya ma hantu, sering nertawain adanya hantu, kalo ada org bawa sesaji selalu diusilin.. hehehehe… Tapi ya klo dipikir2 sih emang aneh juga, klo hantu itu ada dimana2 dan menghuni salah satu tempat? ngapain mereka gak bosen.. daripada kerjaan mereka cuman nongkrong di situ.. mending kan maen2 ke diskotek, weekend,, chattingan, fesbukan, cari kenalan, nonton Piala Dunia Bareng atau apaan kek.. !! itu kan lebih seru,, ngapain harus sembunyi terus !! coba aja mereka melakukan demonstrasi menuntut hak2nya,, tempat nongkrong mereka gak bakalan bisa digusur deh.. hahahahaha

coba aja bayangin,, orang takut sendiri karena takut ma hantu, orang takut ke kuburan takut karena hantu.. orang takut ngurus jenazah takut entar jenazahnya jadi hantu… bhkn klo perlu disiapin sesajen, kemenyan dan peralatan perdukunan yang lain (dukun’s tools) agar hantu gak nakut2in manusia. weleh, weleh, welehh !!

Begitu lah fenomena kepercayaan akan Hantu.. yang menimbulkan kasta.. Kasta Kraton mungkin kepercayaan hantu mereka sangat ekstrim,, sehingga segala apapun selalu dikaitkan dengan hantu,, kasta di bawahnya kepercyaaan mereka ya selalu takut ma hantu dan selalu berlindung agar terlepas dari gangguan hantu.. kasta pasaran.. mereka percaya hantu, tapi ya ambil sikap cuek.. kayak gue ini.. hehehehe
Oke.. entah hantu itu ada atau enggak.. yang jelas ngobrol tentang hantu itu banyak orang yang suka ..



Kultus Terhadap Nyai Roro Kidul
Legenda Nyi Roro Kidul merupakan mitologi terbesar sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Bahkan dapat dikatakan bahwa daerah pesisir itu identik dengan sosok Nyi Roro Kidul. “Laut Selatan” diasosiasikan dengan tokoh legenda tesebut. Kepercayaan ini tak hanya hinggap di benak masyarakat,  melainkan diteguhkan dengan ragam tradisi-tradisi yang khusus dipersembahkan kepada sosok ini.
Para Raja Kraton di Jawa pun sering dihubungkan dengan sosok ini. Menurut legenda, nyai Roro Kidul ini bersuamikan para raja yang memerintah Pulau Jawa. Panembahan Senopati dan Sultan Agung bahkan diceritakan dalam Babad Tanah Jawi menikah dengan Nyai Roro Kidul, begitu juga para keturunannya baik dari Kraton Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta sampai saat ini.[1]
walaupun ada hal yang aneh dalam mitos ini, seorang anak tidak hanya mewarisi jabatan raja dari ayahnya, melainkan juga mewarisi istrinya sekaligus. Terdapat beberapa tempat yang dipercaya khusus untuk bertemu langsung dengan Nyai Roro Kidul. Di bagian tengah Kraton Surakarta, misalnya, terdapat sebuah bangunan berasitektur Belanda-Jawa, yang dinamakan dengan Sangga Buwana,  dipercaya sebagai tempat pertemuan Raja dan Sang Ratu Kidul.[2] bahkan, terdapat hotel mewah di salah satu dekat Pantai Selatan yang menyediakan ruangan khusus bagi Ratu.
Walau raja tak lagi berkuasa sebagaimana zaman dulu, dan Kini berganti pada sosok Presiden maupun Gubernur dalam sistem politik Demokrasi Presidensiil, tapi kepercayaan tersebut masih melekat, bahwa Ratu Kidul bersuamikan raja Kraton, (bukan bersuamikan presiden RI atau Gubernur Jawa Tengah), walau raja Kraton hanyalah simbol raja budaya belaka, tak lagi mempunyai kekuasaan politis apapun. Kraton dipertahankan dalam sistem Politik saat ini, bukan karena ia masih dibutuhkan pada saat ini, melainkan ada aspek culture-historis kenapa kraton mesti dipertahankan.
Karena penghormatan berlebih pada sosok ini, maka banyak orang yang tidak mau menyepadankan sosok ini dengan sosok hantu lainnya. Walau sebenarnya tak ada perbedaan sama sekali antara Hantu dan Nyai Roro Kidul. keduanya sama-sama sosok yang selalu dikatakan menakutkan, menguasai daerah tertentu, butuh sesaji untuk penghormatan terhadap mereka, dipercaya sebagai makhluk ghaib, dan sebagainya. Tak ada perbedaan apapun dengan jenis hantu lainnya, perbedaannya hanya terletak pada kualitas pengkultusannya.
Kultus terhadap dewi ini ditransmisikan dari zaman ke zaman sejak berabad-abad silam. Legenda Nyi Roro Kidul ini sering diceritakan kepada para anak-anak Jawa, bahwa di Pantai Selatan sana berkuasa seorang Ratu yang menguasai lautan Luas. Apabila ada angin kencang, maka hal itu menandakan sang Ratu lewat. Tak ayal, pengaruh pendidikan yang salah itu merasuk ketika mereka dewasa. Mereka begitu takzhim apabila mereka berada di lautan selatan. Mereka tak boleh sembarangan dan (apalagi) memakai baju berwarna hijau, karena Ratu sendiri berpakaian hijau. Jadi tak mengherankan apabila di Pantai Selatan Jawa, kita jarang menemukan ornag yang berpakaian hijau. Karena itu hal yang tabu dilakukan apabila orang berkunjung disana.[3]

A.                 Legenda Nyai Roro Kidul
Menurut Kisah, Ratu Kidul ini adalah anak seorang raja Pajajaran yang bernama Dewi Kadita. Karena pengaruh jahat dari ibu tirinya yang memusuhinya karena dengki dan mengamankan tahta kerajaannya bagi anak lelaki, ia pun mengirim guna-guna.. Akibat guna-guna tersebut bagian kulit Dewi Kadita dibuat “hancur”. Putri cantik tersebut menderita suatu penyakit kulit akibat ilmu hitam. Tak tahan dengan penderitaannya, maka Ratu menjatuhkan diri di Laut Selatan, lalu seketika itu kulitnya langsung sembuh dan wajahnya menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Maka, segera lah sang putri menguasai segala makhluk yang ada di sana, dan berkuasa dengan sebutan “Ratu Kidul”.[4]
Kisah ini tidak hanya hidup pada tradisi oral, bahkan kisah tentang Ratu Kidul ini diceritakan oleh Kitab Sejarah orang Jawa, yaitu Babad Tanah Jawa. Didalamnya berisi rangkaian sejarah para sejarah yang bercampur dengan mitos-mitos yang bertentangan dengan hati dan fikiran orang yang hidup pada masa kini.
Selain legenda tersebut, juga ada legenda dalam versi lainnya. yaitu diceritakan seorang yang bernama Joko Suruh,  seornag Pangeran dari Kerajaan Pajajaran yang bertemu dengan Seorang Pertapa perempuan yang sangat rupawan. Perempuan tersebut tak lain dan tak bukan adalah bibi Joko Suruh sendiri, yang bernama Ratna Suwinda. Melihat kecantikannya, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya, tetapi cintanya ditolak oleh Ratna Suwinda, dan mengatakan kepadanya bahwa Jika keturunannya kelak berkuasa di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi para keturunan yang berkuasa di daerah itu.[5] Maka dengan berdirinya Kerajaan Mataram di Kotagede (Sekitar 25 km garis lurus dari puncak Gunung Merapi), maka saat itu juga Nyai Roro Kidul menikahi para raja keturunan Joko Suruh. Dari Panembahan Senopati sampai para raja kraton saat ini.
Dalam mitos tentang Ratu Kidul ini terdapat beragam versi, termasuk mitos yang menyatakan bahwa yang di Laut Selatan berkuasa dua ratu, yang jahat dan yang baik. Yang pertama adalah Nyai Ratu Kidul dan yang kedua adalah Nyai Roro Kidul. Ratu Kidul diceritakan sebagai Penguasa sebenarnya, sedangkan Nyai Roro Kidul adalah seorang putri jahat yang mempunyai kekuatan, dan sanggup melawan Ratu Kidul. dalam versi ini, sesama makhluk mitos bermusuhan satu sama lainnya, seperti Preman yang memperebutkan lahan parkir. Entah apapun versinya, sebagai seorang beragama semestinya percaya bahwa Penguasa Laut Selatan bukan lah Ratu atau Nyai Roro Kidul, melainkan Allah Swt sendiri, yang kekuasaanNya tak terbatas.

B.     Karakter Umum Legenda Cerita Rakyat
Sudah tentu Legenda tentang Nyai Roro Kidul ini, satu diantara puluhan Legenda yang hidup di Indonesia. Syarat dengan cerita-cerita yang sangat sulit diterima oleh akal sehat. Seperti Legenda Tangkuban Perahu, dimana menceritakan tentang seorang anak yang akan menikahi ibunya dengan syarat membuat perahu. Setelah perahu terbuat, tetapi ibunya membangunkan ayam tanda hari sudah pagi, maka si anak itu marah lalu melempar perahu hingga terterungkup, lalu jadilah gunung seperti terungkupnya perahu, yang dinamakan sebagai Tangkuban Perahu.[6]
Mitos lainnya hampir serupa, seperti legenda terjadinya Gunung Batok, yang menceritakan kisah tentang Seorang raksasa yang akan menikahi seorang putri, lalu dibuatlah syarat membuat gunung dengan hanya menggunakan batok, lalu dengan siasat sang putri membangunkan ayamnya, lalu sang raksasa marah lalu ia melemparkan batok, hingga terterungkup maka terbentuklah sebuah gunung bekas lemparannya itu yang juga dinamakan Gunung Batok.[7] Legenda lainnya dapat dilihat seperti Legenda Candi Prambanan. Dalam legenda itu diceritakan, tentang seorang raja yang akan melamar seorang putri, tetapi putri itu membuat syarat membangun seribu candi dalam waktu satu malam.. Karena dengan siasatnya pula, sang pelamar gagal membuatkan seribu candi, lalu marah dan mengutuk sang putri hingga menjadi patung.[8]
Tak jelas mengapa Legenda-legenda tersebut mempunyai persamaan satu sama lainnya. yaitu bercerita tentang seorang putri cantik yang menolak lamaran seorang laki-laki dengan membuat sebuah syarat tertentu. Mitologi diperlukan waktu lampau, karena ilmu pengetahuan belum tersistematisasikan sebagaimana saat ini, sehingga spekulasi yang berkembang diterima mentah-mentah, dan dapat menjadi informasi yang sah.[9] Mitologi tentang terjadinya alam semesta di Kitab Perjanjian Lama, misalnya, juga mengandung cerita spekulasi terjadinya alam semesta berdasarkan perkiraan penulis kitab tersebut, seperti tertera dalam Kitab Kejadian Pasal 1 ayat 1-14. Tetapi, legenda sebagaimana umumnya yang terdapat di Indonesia banyak yang menceritakan tentang kisah putri Raja. 
Dalam sejarah Raja yang berkuasa di Jawa tempo dulu, kedudukan putri sangat berarti. Ia sering diasosiasikan oleh para rakyat jelata, sebagai seorang putri tak tersentuh dan sering diasosiasikan dengan kecantikan dan kecerdasan. Putri Raja yang Cantik juga mempunyai kedudukan politis, ia dapat dijadikan penghubung dengan penguasa lainnya melalui jalur pernikahan. Dulu Raja menikahkan putrinya tidak dengan rakyat jelata sebagaimana kisah Aladin, melainkan dengan sesama anak raja atau setidaknya dengan pejabat Istana yang mempunyai kedudukan. Walaupun tidak diatur dalam kasta yang jelas sebagaimana dalam masyarakat Hindu di India, tetapi kasta-kasta tersebut terjadi secara alami. Sosok Ratu Kidul yang dulu bernama Dewi Kadita juga mempunyai cerita yang hampir sama, dimana ia banyak dilirik oleh para pangeran untuk dapat dijadikan sebagai istrinya.
Menurut mitos yang hingga kini berkembang, Nyai Roro Kidul dalam memerintah sebuah Kerajaan Ratu Kidul, berdasarkan sistem hirarki atau mempunyai struktur pemerintahannya sendiri, lengkap dengan Mahapatih, Perdana Menteri, Pejabat Kerajaan beserta para Prajuritnya. Nyai Roro Kidul juga dipercaya sebagai Ratu yang menciptakan kehidupan yang sejahtera, sentosa dan makmur bagi rakyat yang hidup di Tanah Jawa (Mataram) seperti ikrarnya semula.[10] Walaupun kita agak mengernyitkan dahi soal ini, busung lapar, merajalela disertai penyakit dengan kualitas hidup yang sangat rendah, jutaan Wanita di Jawa terpaksa menjadi TKW di Luar Negeri, sedangkan segelintir orang menikmati kekayaan Negara yang berlimpah ini dengan hidup dalam perumahan mewah, hasil dari struktur negara yang tidak adil. Ribuan ritual terhadap Nyai Roro Kidul pun takkan mampu membuat rakyat kita hidup lebih makmur. Negara Makmur di Eropa pun tak lagi membutuhkan sosok Nyai Roro Kidul, tetapi kehidupan mereka jauh lebih makmur daripada di Jawa.
Hanya karena kualitas kehidupan kita yang kekurangan ini lah yang memungkinkan kita untuk merindukan sosok “Ratu Adil” yang akan memerintah dengan penuh adil, cinta kasih dan akan membawa ummat manusia pada kesejahteraan. Kerinduan itu berwujud pada imajinasi dan keinginan kolektif bawah sadar tentang Penguasa ideal, yaitu keturunan raja masa lampau, yang mempunyai wajah rupawan, cerdas, dan adil, yang akan membawa kemajuan bagi Tanah Jawa.
Tidak diketahui secara persis bagaimana mitos itu diyakini oleh hampir semua orang Jawa awam. Acara labuhan-labuhan dengan skala besar yang melibatkan ratusan orang dan ditonton oleh ribuan orang seringkali terjadi di Laut Selatan, terutama pada peringatan tahun baru Jawa yang dikenal dengan Malam Satu Suro. Daerah-daerah pantai ternama di Jawa selalu disibukkan dengan ritual ini. Dari Parangtritis, Parangkusumo, Pantai Cilacap hingga Pantai Pangandaran. Para orang yang terlibat dalam acara tersebut terlihat syahdu menghayati makna ritual mereka. Mereka melabuhkan beragam sesajen dan melarungkannya ke Laut, sebagai bentuk sembahan terhadap Sang Ratu.

C.                Perbandingan Antara Laut Selatan & Segitiga Bermuda
Laut Selatan di jiwa masyarakat Jawa sebagaimana Segitiga Bermuda yang terpatri dalam jiwa orang Amerika tengah. Segala bentuk ketakutan dan ketakjuban akan Laut Selatan ini mempunyai banyak kemiripan dengan penduduk Amerika Tengah terhadap legenda Segitiga Bermuda.
Segitiga Bermuda merupakan daerah di Selatan Negara Bagian AS, Florida, atau terletak di Samudra Atlantik. Dikatakan sebagai segitiga (Triagle) karena Segitiga Bermuda adalah wilayah yang membentuk segitiga dengan tiga titik di Miami, Bermuda dan Puerto Rico. Tetapi ukuran luas wilayah segitiga itu bervariasi, dari 500 ribu mil persegi[11] bahkan menurut versi lainnya tiga kali lipat dari luas tersebut. Jadi titik-titiknya pun sama, yaitu Azores, Teluk Meksiko dan Hindia Barat.
Beda orang, berbeda versi, itulah hukum mitos. Karena mitos tidak dibangun atas premis yang benar-benar meyakinkan sebagaimana sains. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, bahwa telah banyak pesawat dan kapal yang menghilang secara misterius di tempat ini. menurut Mitos, tiap penerbangan atau kapal yang melintasi daerah ini kemungkinan akan menghilang. Menurut mitos juga, ribuan kapal dan pesawat terbang telah mengalami kecelakaan di daerah ini. padahal perkiraannya “hanya” 200-1000 insiden dalam rentang waktu selama 500 tahun, atau sejak masa Columbus. Atau sedikitnya rata-rata hanya sekali kecelakaan dalam rentang waktu 2 tahun.
Karena daerah ini mempunyai kerentanan tinggi terhadap bencana, maka mitos tentang kecelakaan ini selalu dihubungkan pada hal-hal yang bersifat misterius, dan terkesan dibesar-besarkan. Banyak teori yang diberikan untuk memperjelas misteri yang dikatakan luar biasa tersebut. Sudah tentu teori itu dibangun berdasarkan asas spekulasi. Dari makhluk luar angkasa jahat, residu kristal, sampai pada medan magnet yang aneh. Sedangkan para ilmuwan dari kalangan skeptis lebih memilih beragam variabel alami, seperti Cuaca, lingkungan fisik wilayah tersebut, angin topan, gempa dan tsunami, gelombang tinggi, bajak laut, sampai ketidakmampuan navigasi.[12]
Selain karena kemungkinan yang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat alami tersebut, sebagaimana telah diuraikan di atas, jumlah kecelakaan di daerah ini tidak lah begitu fantastik, mengingat ukuran luasnya lokasi, banyaknya jumlah lalu lintas, dan banyaknya kapal yang diyakini menghilang di daerah ini, tidak semuanya yang telah diidentifikasi berada di daerah ini.  legenda tentang Segitiga Bermuda ini sebenarnya tidak lah dimulai berabad yang lampau, melainkan legenda yang muncul baru saja. Diperkirakan sejak tahun 1945 atau ketika akhir perang Dunia II, dimulai sejak lima pesawat AU menghilang secara misterius di daerah ini. seketika itu, banyak cerita yang berkembang menyatakan bahwa kelimanya “disedot” oleh sebuah kekuatan yang bersumber dari dalam Laut. Sebenarnya banyak teori lain yang menyatakan bahwa pesawat tersebut tidak dilengkapi dengan instrumen navigasi, kehabisan bahan bakar dan ketidakmampuan peserta latihan militer tersebut mengendalikan pesawatnya.
Itulah mitos, yang berkembang dari satu telinga ke telinga yang lain. Dan kemungkinan diberikan bumbu yang sedap, maka diperoleh sebuah kesimpulan yang “sedap” untuk diperdengarkan untuk orang lain. Semakin misterius, maka semakin menarik. Dan menurut ukuran orang awam, mereka lebih memilih untuk mendengarkan hal-hal yang bersifat fantastik daripada penjelasan “konvensional” belaka. Akibat cuaca atau hal lain yang bersifat alami tidak lah menarik perhatian banyak orang. “bumbu” itu lalu menjadikan cerita lezat siap saji, dan dikuatkan pada komunitas, diteguhkan dan disebarluaskan oleh media Massa demi keuntungan publikasi.
Lautan memang menimbulkan suatu getaran jiwa yang hebat pada manusia. Lautan kumpulan air yang sangat luas bagaikan tak berujung. Suatu hal yang besar yang mampu menghadirkan ketakjuban terhadap setiap orang. Legenda tentang Hantu Laut tak hanya terjadi di Jawa belaka, di Sulawesi, di Jepang, bahkan di Dunia Barat sekalipun. Lautan selatan memang jauh lebih dahsyat dan menghadirkan getaran dari Laut utara Jawa. Lautan Selatan Jawa adalah Samudra sangat luas yang dinamakan sebagai Samudra Hindia. Gelombang Lautan di Selatan Jawa berupa ombak sangat besar, dan pantainya palungan dengan curam yang sangat dalam, sehingga tak mengherankan apabila dijumpai banyaknya “tumbal Roro Kidul”.  hal seperti ini lah sangat memungkinkan orang untuk menerima mitos tentang Nyai Roro Kidul lebih mudah.

D.            Kepentingan Penguasa Jawa di Balik Kisah Nyai Roro Kidul
Apabila melihat secara seksama tentang mitos Nyai Roro Kidul, maka kita dapat menjumpai beberapa hal, yaitu ;
1)      Nyai Roro Kidul berasal dari keluarga Raja Jawa
2)      Ia mempunyai Hubungan khusus dengan para Raja di Jawa (Hubungan Suami Istri, terkadang disimbolkan dengan hubungan seksual)
3)      Legenda Nyai Roro Kidul menimbulkan rasa hormat dan takzhim sekaligus takut dari para rakyat Jawa terhadap sosok Ratu.
4)      Berbagai Upacara yang ditujukan kepada Nyai Roro Kidul dilakukan oleh para Raja Jawa tempo dulu, dan sampai sekarang masih dipertahankan, dimana Kraton memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kepercayaan terhadap hantu tersebut.

Karena fakta-fakta di atas, maka tak mengherankan apabila sebagian sejarawan banyak yang mengasosiasikan dengan kepentingan politik para raja Jawa tempo dulu. Salah satunya yang berpendapat demikian adalah seorang sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer, pengarang Tentralogi, “Bumi Manusia”. [13]
Legitimasi dukungan kekuatan magis begitu dibutuhkan oleh para penguasa masa silam. Masyarakat Jawa sendiri merupakan masyarakat yang akrab dengan mitologis. Mereka tidak hanya menghormati kraton, tetapi juga menanamkan keyakinan akan kesaktian para raja dan para pangeran, beserta para punggawa Kraton. Dengan kesaktian, mereka tidak hanya menebar ketakjuban, tetapi secara tidak langsung akan menanamkan sikap tunduk kepada para penguasa lokal mereka.
Tak hanya itu, para Raja Jawa juga sering membuat sanad-sanad, yang menghubungkan dirinya sebagai garis keturunan dewa Surya, tetapi di sanad lainnya mereka buat dengan menghubungkan dirinya dengan silsilah Nabi Muhammad Saw. Bahkan menurut sebagian mereka, raja mereka adalah “para habaib” (Para Keturunan Rasulullah Saw).[14] Dalam sejarah yang berkembang di Jawa sendiri, para raja sering menghubungkan dirinya dengan para raja yang pernah berkuasa tempo dulu. Bahkan dalam salah satu kampanye yang dibuat oleh seorang politisi asal Jawa di era Reformasi untuk maju dalam bursa pencalonan Bursa capres, Tim Suksesnya membuat silsilah yang menghubungkannya dengan Prabu Brawijaya V (raja terakhir dari Majapahit). Legitimasi kekuasaan lah yang mereka butuhkan, dan semua penguasa di dunia pun membutuhkannya, tentu dengan cara yang berbeda-beda.


[1] Muhammad Sholikhin ,Kanjeng Ratu Kidul Dalam Perspektif Islam Jawa, (Yogyakarta: Narasi, 2009), hlm. 120-121


[2] Ibid., hlm. 124
[3] Ibid., hlm. 178
[4] Ibid., hlm. 85-87
[5] Ibid., hlm. 88
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Sangkuriang_%28legenda%29
[7] http://www.angelfire.com/ma/changeunhye/batok.html
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Rara_Jonggrang

[9] Van Peursen, Strategi Kebudayaan, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 41


[10] Muhammad Sholikhin ,Kanjeng Ratu Kidul, hlm. 187
[11] http://ronymedia.wordpress.com/2010/07/23/asal-nama-segitiga-bermuda/
[12] http://en.wikipedia.org/wiki/Bermuda_Triangle

[13] Budi Susanto, Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 115

[14] Lih. Catatan Kaki dalam Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta: LkiS, 2005), hlm. 76