Select Menu
Select Menu

Favourite

Jawa Timur

Wisata

Donasi Untuk Palestina

Culture

Transportasi Tradisional

Rumah Adat

Bali

Pantai

Seni Budaya

Kuliner





Siapapun pemenang Pilpresnya sebagaimana yang ditentukan oleh rekapitulasi suara di KPU,, kita harus menghormatinya,,

Sikap kami,  redaksi ‘beritatakbiasa’ sangat jelas,, mendukung kebijakan Presiden terpilih, sebagaimana nasehat dari Ibunda Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Jika ada capres tidak menerimanya dan mengajukan gugatan, biarkan ditempuh di jalur hokum. Sama sekali tidak mengurangi keputusan KPU terhadap Presiden Terpilih.

Meski demikian, Proses Hukum terhadap kecurangan-kecurangan di Pilpres 2014 ini harus dilanjutkan. Dan jika ditemukan indikasi penyimpangan, maka pihak yang bersangkutan harus dihukum secara setimpal. Karena ini adalah Negara Hukum.

Biarkan Jokowi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Kami ucapkan Selamat kepada beliau. Tetapi, sebagai Presiden sekaligus sebagai WNI, ia tidak lah kebal terhadap hokum. Jika terindikasi terlibat dalam kecurangan Pilpres, maka harus juga ditindak secara tegas.

Tingginya potensi penyimpangan lebih dari 20 Juta suara tidak mungkin diabaikan. Bagaimana mungkin di Papua,, Jumlah DPT > Jumlah Total Penduduk? Bagaimana Bisa???

Semakin besar penyimpangan,,  semakin besar pula pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Seberapapun besarnya pihak yang terlibat,, hukum mesti ditegakkan.

Klo sekedar kisruh karena terlambat datangnya segelintir pemilih di Hong Kong dipermasalahin,, kenapa kasus yg jauh lebih besar dicuekin? 

Ini bukan lagi sekedar siapa presidennya,, karena itu sudah gak penting. Yang terpenting adalah Kepercayaan sistem Demokrasi itu sendiri. 

Di Filipina saat ini, Mantan Presidennya, Gloria Macapagal Arroyo, terancam dipidanakan, menyusul dugaan kasus kecurangan Pilpres 2004. Meski sudah 10 tahun, kasus tidak dipetieskan, karena kekuatan oposisi masih solid selama sepuluh tahun. 

Nasib Gloria Macapagal Arroyo dapat pula terjadi pada pemenang Pilpres kali ini.  Oke,, Selamat menikmati Jabatan Presiden, Pak Jokowi, ku tunggu janji-janjimu


Demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme memiliki hubungan sangat erat. Keduanya seperti dua sisi mata uang. Pasalnya, keduanya lahir dari akidah yang sama. Itulah sekularisme. Sekularisme melahirkan demokrasi di bidang politik dan kapitalisme-liberal di bidang ekonomi.

Demokrasi akan berjalan bila didukung oleh dana yang besar. Karena itu demokrasi kemudian ditopang oleh sistem ekonomi kapitalisme-liberal. Sistem ekonomi kapitalis liberal akan tumbuh subur dalam iklim kebebasan yang membolehkan orang memiliki segala sesuatu dengan cara apapun. Kebebasan itu diberikan oleh demokrasi. Sistem politik demokrasi dijalankan oleh penguasa. Sistem ekonomi kapitalis digerakkan oleh pengusaha. Dengan demikian secara praktis kolaborasi demokrasi dengan kapitalisme meniscayakan adanya persekutuan penguasa dengan pengusaha, atau penguasa sekaligus sebagai pengusaha.

Kekayaan untuk Asing

Bahaya terbesar yang dihasilkan dari kerjasama keduanya adalah hadirnya negara korporasi. Negara korporasi adalah negara yang dihela oleh persekutuan kelompok politikus dan kelompok pengusaha. Dalam negara korporasi, negara dijadikan sebagai instrumen atau kendaraan bisnis. Keputusan-keputusan politik akhirnya lebih mengabdi pada kepentingan para pemilik modal dan pihak asing. Adapun kepentingan rakyat mereka abaikan.

Contoh negara korporasi terbesar di dunia adalah Amerika Serikat. Pengaruh korporasi dalam pemerintahan negara adidaya ini bukan saja terhadap politik dalam negeri, namun juga terhadap politik luar negerinya. AS melakukan penjajahan atau imperialisme demi keuntungan perusahaan-perusahaan besarnya.

Salah satu korban kejahatan negara korporasi AS adalah Irak.Ketika AS menginvasi Irak, sesungguhnya itu tidak berdasarkan satu pun alasan rasional yang bisa diterima. Ketika para pejabat keamanan AS mengatakan bahwa invasi diperlukan untuk menghancurkan senjata pemusnah massal, faktanya Irak ketika itu tidak memiliki senjata yang dimaksud. Begitu juga ketika dikatakan bahwa invasi diperlukan untuk menumbangkan Presiden Saddam Hussein, sebenarnya untuk menumbangkan Saddam tidak perlu sampai harus melakukan invasi karena toh Saddam adalah boneka AS. Dia dulunya adalah agen CIA ketika Bush senior menjadi direkturnya.

Jelas sekali, invasi itu dilakukan tidak lain demi memuaskan ambisi kaum pebisnis yang ada di sekitar Presiden Bush, yaitu pebisnis senjata, minyak dan infrastruktur. Keluarga Bush sendiri adalah pebisnis minyak. Dengan invasi yang dibiayai negara, senjata yang diproduksi oleh pabrik-pabrik senjata yang dimiliki oleh para pejabat pemerintahan Bush tentu menjadi laku.

Ketika Irak sudah hancur, pemenang tender rekonstruksi Irak adalah Bechtel. Ini adalah perusahaan konstruksi penyokong utama Presiden Bush. Lalu dari mana biaya ratusan miliar dolar AS untuk rekonstruksi? Gampang saja. Semua diambil dari hasil minyak Irak yang sangat melimpah itu. Jadi ini adalah bisnis besar. Sangat besar, sekaligus sangat jahat. Irak dihancurkan oleh AS. Lalu perusahaan AS juga yang memperbaiki, tetapi dengan duit dari Irak. Irak porak-poranda. Perusahaan AS tertawa dan dapat menguasai minyaknya.

Negara korban lainnya adalah Indonesia. Misalnya, dalam kasus blok kaya minyak Cepu. ExxonMobil, perusahaan minyak raksasa dunia, bisa memaksa pemerintah AS untuk ikut campur tangan agar perusahaan minyak asal AS itu ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia sebagai pengelola Blok Cepu. Tidak tanggung-tanggung, campur tangan dilakukan oleh pemimpin tertinggi ExxonMobil, Duta Besar Ralph Boyce dan Presiden Bush. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice langsung datang ke Indonesia untuk urusan itu. Pemerintah pun akhirnya menyerahkan Blok Cepu kepada Exxon, bukan kepada Pertamina sebagai perusahaan Indonesia. Hingga saat ini, Exxon Mobile tetap menguasai Blok Cepu. Minyak pun dikuasai pihak asing.

Skenario yang hampir sama diulangi lagi dalam persoalan pengelolaan Blok Mahakam. Perusahaan minyak Prancis, TOTAL, telah menguasai blok kaya minyak tersebut sejak 1967, beberapa pekan setelah Soeharto menjadi presiden. Beberapa bulan sebelum Presiden Soeharto lengser, kontrak itu diperpanjang selama 20 tahun sehingga akan berakhir 31 Maret 2017.

Kini, menjelang Pemilu Presiden 2014 yang menandai berakhirnya Pemerintahan Presiden SBY, perusahaan migas dari Perancis ini bisa jadi memainkan beragam jurus demi tetap mencengkeram Blok Mahakam agar tetap dalam genggaman. TOTAL pun masih mengelola beberapa blok migas mereka yang lain di wilayah Indonesia.

Namun, seperti apa sikap sikap pemerintahan SBY? Melalui Menteri ESDM Jero Wacik dikatakan bahwa kontrak Blok Mahakam baru berakhir 2017 mendatang. Jadi tidak terlalu penting diputus oleh pemerintahan sekarang. “Daripada saya dicurigai cari dana kampanye, ya sudah, biar diputuskan pemerintah baru. Biar mereka yang pusing,” ungkap Jero Wacik, kepada pers di Jakarta, 11 April 2013 lalu.

Tak lama setelah dikeluarkannya sikap pemerintah  atas Blok Mahakam, seperti yang ditegaskan Jero Wacik, pada 10 Juli lalu Wakil Presiden Senior Total E&P Asia Pasifik, Jean Marie Guillermou, terbang ke Jakarta untuk menemui Menteri ESDM Republik Indonesia. Kedatangan Guillermou menemui Jero adalah untuk meminta kepastian perpanjangan Blok Mahakam. Padahal Menteri ESDM sudah mengatakan sebuah kepastian sebelumnya, melalui pernyataan 11 April 2013 lalu. Sebuah upaya melobi untuk mendesak?

Lalu berubahkah sikap Jero Wacik? Memang pernyataan Jero bisa menimbulkan spekulasi bahwa Pemerintah condong akan kembali memperpanjang kontrak TOTAL dan partnernya, Inpex, di Blok Mahakam. Pasalnya, keputusan akhir tentang blok itu memang ada Kementerian ESDM.

Yang jelas, suara-suara yang meragukan kemampuan Pertamina mengelola blok Mahakam terus disuarakan. Salah satunya oleh Ari Sumarno, mantan Direktur Utama Pertamina yang pada masa kepemimpinannya Blok Cepu diserahkan kepada ExxonMobil, Maret 2006.

Ari Sumarno menyatakan bahwa PT Pertamina (Persero) dinilai belum mampu mengelola Blok Mahakam tanpa bantuan operator lain. Pasalnya, dengan aset yang dimiliki saat ini, Pertamina belum juga mampu meningkatkan cadangan minyak dan gas bumi di lapangan milik mereka sendiri.

Ari Sumarno mengatakan Blok Mahakam merupakan lapangan migas yang secara teknis sulit dikelola lantaran terdiri dari dua jenis lapangan, yaitu di darat (onshore) dan di laut (offshore). Dengan begitu, diperlukan teknologi yang lebih rumit dibanding lapangan migas di darat. Demikian ujar Ari kepada wartawan di Jakarta Senin (25/2/2013).

Rudi Rubiandini, mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Migas (SKK Migas) yang sekarang menjadi tersangka korupsi dan gratifikasi, juga menyebut pengelolaan blok Mahakam seperti makan bubur ayam. Pertamina diharuskan belajar ‘makan’ blok Mahakam dari pinggir dan selanjutnya ke tengah.

Kepala BP Migas R Priyono (Juli, 2013) mengatakan, “Jika Pertamina ingin mengelola Blok Mahakam, harus ada masa transisi dulu. Pertamina sementara transisi dulu, biar TOTAL yang jalan.”
Sikap Pemerintah yang mendahulukan perusahaan asing daripada Pertamina menunjukkan kuatnya pengaruh korporasi asing dalam menentukan kebijakan di Indonesia, bahkan dalam pembuatan undang-undang. UU no 22 tahun 2001 tentang Migas menempatkan Pertamina perusahaan milik negara ini sama seperti perusahaan-perusahaan minyak lainnya, yang harus melakukan tender agar bisa mengelola sumur minyak di bumi Indonesia.

Banyak sekali kekayaan negeri Muslim terbesar ini yang diserahkan kepada pihak asing. Penguasa berkolaborasi dengan pengusaha merampas kekayaan rakyat, lalu menyerahkannya kepada pihak asing. Lebih dari 80 persen ladang migas di Indonesia dikuasai oleh pihak asing! Adapun rakyat sebagai pemilik kekayaan alam tersebut tetap dalam kesengsaraan.

Kapitalisasi Kesehatan

Tak cukup menjarah kekayaan alam Indonesia, korporasi dan penguasa di negeri Muslim terbesar ini berusaha mendapatkan uang dari rakyat melalui kapitalisasi kesehatan. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengadopsi jaminan kesehatan kapitalistik mulai diberlakukan di Indonesia sejak 1 Januari 2014.

JKN ini membawa seperangkat konsep-konsep yang membius dan menyesatkan, dibangun di atas logika berpikir yang batil. Beberapa prinsip yang dianut program ini di antaranya:
  1. Pelayanan kesehatan harus dikomersialkan.
Konsep ini telah dipaksakan World Trade Organization (WTO) untuk diadopsi dunia, khususnya negara-negara anggota WTO. Layanan kesehatan dimasukkan ke dalam salah satu layanan dasar yang termaktub dalam kesepakatan perdagangan General Agreements Trade in Services (GATS), tahun 1994.
  1. Pembatasan peran Pemerintah sebatas regulator dan fasilitator.
Konsep ini berangkat dari pandangan bahwa institusi penyelenggara asuransi sosial lebih kapabel daripada Pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. German Technical Cooperation Agency (GTZ), sebuah organisasi layaknya perusahaan swasta yang dimiliki oleh Pemerintah Federal Jerman yang aktif membidani kelahiran JKN, menjelaskan, “Ide dasar jaminan kesehatan sosial (Indonesia, JKN) adalah pengalihan tanggung jawab penyelenggaraan pelayan kesehatan dari pemerintah ke institusi yang memiliki kemampuan tinggi untuk membiayai pelayanan kesehatan atas nama peserta jaminan sosial.”

Dalam konteks JKN, institusi yang dimaksud adalah BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Tertuang dalam ayat 1 pasal 1, UU No. 24 Tahun 2011, tentang BPJS: “Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.”

Kewenangan BPJS Kesehatan sangat luar biasa, mulai dari menagih (baca: memaksa) pembayaran dari masyarakat, mengelola dana masyarakat tersebut, sampai dengan mengelola pelayanan kesehatan itu sendiri.

Terkait BPJS Kesehatan, meskipun badan hukum publik, prinsip-prinsip korporasi tetap dijadikan dasar tata kelolanya (Lihat: bunyi butir b Pasal 11 tentang wewenang BPJS). Intinya, BPJS dikehendaki untuk menjadi pengelola finansial dan pelayan publik (kesehatan) sekaligus dengan tetap mengedepankan prinsip korporasi, yaitu mendapatkan profit yang memadai.

UU No. 24 tahun 2011 tentang BPJS membuktikan bahwa Pemerintah Indonesia secara terbuka telah mengadopsi konsep Public Private Partnership/Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS) sebagai konsep pembangunan dan tata kelola sistem kesehatan dan pelayanan publik pada umumnya.

Di sinilah kita secara gamblang menyaksikan bagaimana negara korporasi mengambil manfaat dan keuntungan yang besar dari dana masyarakat yang dihimpun melalui iuran JKN. Siapa yang diuntungkan? Tentu para pengusaha yang mencukongi para penguasa. Bagaimana dengan kondisi rakyat? Rakyat tetap sengsara.

Apa penyebab kerusakan dan persoalan ini? Semua kerusakan dan persoalan ini terjadi karena penerapan sistem ekonomi liberal di Indonesia.

Berharap pada Pemilu 2014?

Dalam Pemilu 2014, tidak ada satu partai pun yang memandang bahwa sistem ekonomi kapitalis sebagai problem yang membuat rakyat Indonesia menderita. Bahkan kolaborasi politikus dan pengusaha makin menonjol pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Golkar, Gerindra, Nasdem, Hanura dan PKB.

Santer dibicarakan, pencalonan Jokowi dari PDIP didukung oleh 9 taipan/konglomerat Cina. Elite PDIP bertemu dengan Dubes Amerika Serikat (AS), Robert Blake, di rumah pengusaha Jacob Soetoyo. Mereka juga bertemu dengan Dubes Vatikan. Jika PDIP berada di puncak kekuasaan maka kolaborasi pengusaha dengan penguasa akan makin kokoh. Jokowi sendiri seorang pengusaha. Dengan demikian negara korporasi di Indonesia akan makin kokoh. Selama ini ekonomi Indonesia sudah dikuasai oleh kelompok Cina perantauan/overseas, dan kini pengaruhnya langsung ke bidang politik.

Bagaimana bila Prabowo yang menjadi RI-1? Prabowo juga memiliki jaringan usaha. Di belakang dia ada pengusaha yang juga adiknya, Hashim Djojohadikusumo.

Partai lain juga tidak jauh berbeda. Sekadar contoh: Aburizal Bakrie, Ketum Golkar; Hary Tanoe, Bos MNC Grup, Wakil Ketua Umum Hanura; Rusdi Kirana, pemilik Lion Grup, Wakil Ketua Umum PKB; Surya Paloh, Bos Grup Metro, Ketua Umum Partai Nasdem. Pimpinan PPP, PKS, PAN, PBB dan PKPI memang bukan pengusaha, namun tidak berarti partai-partai itu steril dari pengaruh para pengusaha.

Jelas, semua parpol makin pragmatis, miskin ideologi (less ideology) dan makin menampakan wajah dan sifat kapitalis liberalistik. Lihatlah bagaimana koalisi dibentuk hanya berdasarkan pragmatisme politik, bagi-bagi kekuasaan dan jabatan, serta berkoalisi untuk calon presiden yang peluang menangnya besar.

Oleh karena itu, alih-alih mengatasi kerusakan, hasil Pemilu 2014 menegaskan bahwa perwujudan Indonesia sebagai negara korporasi akan makin nyata. Kelak, keputusan-keputusan politik dibuat bukan demi kepentingan rakyat, tetapi untuk kepentingan para pebisnis. Kader partai di parlemen hanya akan menjadi alat legitimasi bagi pemuasan syahwat politik-ekonomi elit partai. UU yang sangat liberal-kapitalistik akan lebih banyak lagi bermunculan. Muaranya, rakyatlah yang akan menanggung akibatnya berupa pemiskinan struktural dan kesenjangan kaya-miski yang makin menganga.
Namanya saja "Pesta". Rakyat disuguhi berbagai hiburan disana-sini. Ada umbul-umbul dan gambar2 orang di pinggir jalan. Ada penyanyi dangdut yang siap goyang ngeborr, menghibur orang-orang yang datang. Entah yang bawa anak kecil atau kagak. Trus, ada pawai motor-motoran, bebas beratraksi, bebas mengeraskan suara knalpot, gak pake helm, asal ramai dan bawa bendera partai. Dan yang lebih penting lagi, ada bagi2 amplopnya nasi bungkus dan nasi amplopnya lagi. Coba kalo begini sepanjang tahun, mungkin semua rakyat indonesia jadi terhibur. :D

Pesta Demokrasi ini Pesta yang paling boros, coba saja hitung jika tiap caleg pusat saja rata-rata menghabiskan dana ratusan juta. belum dana yang dikeluarkan oleh partai, untuk biaya nyewa dangdut, biaya konsumsi, biaya untuk para "relawan", dsb.Bayangkan berapa ratus kali mereka mengiklankan di TV2 swasta dan media-media berskala nasional, berapa biaya iklan yang mereka butuhkan? dipastikan ratusan milyar hingga triliunan yang dikeluarkan parta-partai besar untuk memenangkan "Pesta" Demokrasi. Hehehe :D , diperkirakan jumlah keseluruhan dana yang dikeluarkan untuk Pemilu 2014 ini jauh di atas nilai 40 Triliunan. woowww !! :D 

Belum lagi kita menghadapi "Pesta-pesta" Demokrasi berskala kecil lainnya, seperti pemilihan Gubernur, Pemilihan Walikota/Bupati, Sampai pemilihan Kades, diperkirakan jumlahnya mencapai 500'an Triliun total yang dikeluarkan untuk membiayai berbagai pesta selama selang waktu hanya 5 tahun.  

Apakah, besarnya dana itu menjamin akan terpilihnya wakil-wakil dan pemimpin rakyat yang berkualitas? Hampir semuanya bersepakat, bahwa semakin besar uang yang dikeluarkan semakin besar pula kemungkinan buruknya kepemimpinan. Logikanya mudah, jika gaji rata-rata bupati saja hanya belasan juta, bagaimana mungkin dapat "mengembalikan modal kampanye"? :D partai politik harus dilihat juga sebagai mesin bisnis juga, diusahakan pemasukan sebesar mungkin dari modal yang dikeluarkannya. Proyek ini itu, dikasih ke kelompok penyokongnya sudah lazim terjadi.

Misalnya, proyek Transjakarta senilai 1,5 T dilimpahkan kepada salahsatu Tim Sukses Jokohok, sebagai "balas budi" dari bentuk dukungannya. Tak mungkin lah sekelas Gubernur-Wagub, gak tau mekanisme proyek triliunan dari APBD. ^_^ . udah ya sampe disini capek nulisnya tau !! :D

 By: Triomacan2000

Eng ing eeng... Siapa capres terbaik ? Jawabnya : TIDAK ADA. Kenapa ? Karena belum ada penetapan capres resmi dari KPU. Belum masanya
Siapa bakal capres terbaik ? Nah kalau ini, bisa dijawab. Banyak faktor dan kriteria utk menilai bakal capres terbaik di Pilpres 201
Bakal capres terbaik belum tentu adalah tokoh/ figur terbaik. Kenapa ? Karena capres hanya bisa diajukan oleh parpol & gabungan parpol
Tokoh terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini BELUM tentu diloloskan partai atau partai bersedia mengajukan namanya sbg capres
Tokoh terbaik, yang ideal menjadi pemimpin bangsa, jadi presiden, belum tentu disetujui parpol utk ditetapkan sbg capres dari partai itu
Sebagian partai lebih mementingkan materi, uang, deal2, kepentingan partai/elit partai dsj dalam menentukan capres yg mereka ajukan
Istilahnya "Wani Piro ?", berani bayar berapa ? Anda punya apa? Kami (partai/elit partai) dapat apa? Dagang sapi dan penuh deal2 kotor
Dulu Nurcholis Madjid salah satu tokoh terbaik bangsa, ingin maju jadi capres. Ga kuat. Mundur. Karena harus sediakan 'GIZI' utk partai
Tanpa 'GIZI' alias uang upeti triliunan yang dibayar ke parpol2, jangan harap pihak eksternal (non partai) disetujui jadi capres parpol
 No Money No Nomination. No Money No Recommendation, No Money No Running For President Election !! No Money, Mimpi jadi capres !
entu saja tidak mesti uang dari kandidat capres itu sendiri. Bisa saja menggunakan uang 'pinjaman atau pemberian' pihak ketiga
Pihak ketiga tentu akan mau keluarkan uang triliunan sbg 'mahar' tokoh bakal capres utk partai, tapi pasti ada deal dan konsesi. PASTI !
Apalagi bakal capres seperti Jokowi yang sudah disiapkan rencana dirinya utk jadi Presiden sejak sebelum Pilkada DKI 2 thn lalu
PASTI banyak deal dan perjanjian antara Jokowi dengan pihak ketiga yang bersedia menjadikan Jokowi sbg bakal capres dari PDIP
palagi Jokowi dijadikan bakal capres sejak dini. Sejak awal sekali ketika para bankir koruptor BLBI buronan kejagung sedang cari2 proxy
Koruptor2 BLBI yang merugikan negara 600 Triliun dan sebabkan RI kehilangan kedaulatan ekonomi krna harus tunduk pada IMF butuh PROXY
Proxy atau boneka mereka untuk menjabat sebagai Presiden RI yang dapat menjamin diwujudkannya semua agenda & kepentingan2 mereka
Agenda utama para ex bankir koruptor BLBI itu adalah : PENGHAPUSAN DELIK PIDANA dalam korupsi BLBI 600 Triliun di Kejaksaan Agung RI
 Upaya mereka dulu, menghapus delik pidana dalam korupsi BLBI gagal total karena KPK menangkap Jaksa Urip Tri Gunawan yg terima suap Ayin
Akibat penangkapan jaksa UTG dan Ayin rencana penghapusan delik pidana korupsi BLBI 25 bankir cina gagal total. SBY dinilai wanprestasi
Karena bgmn pun juga koruptor2 BLBI itu adalah penyandang dana terbesar dlm pilpres 2009 lalu. Jelas deal dan kesepakatan diantara mrka
SBY tdk performed thdp janji membantu penghapusan pidana BLBI krna ada OTT KPK (jaman antasari), bankir koruptor BLBI cari jagoan baru
Jagoan baru itu adalah Jokowi, yg dijadikan bakal capres boneka. Apakah Jokowi jadi capres PDIP ? Semua tergantung konstelasi politik
aktor kedua yang menentukan siapa capres dan apakah tokoh terbaik bakal dicapreskan, tergantung pada ketum /elit Parpol masing2.
Di P Demokrat, jelas semua tergantung pada SBY dan Bu Ani SBY. Di Golkar tergantung Ical dan Nirwan Bakrie. Di PPP ada surya darmaali
Di PKS siapa bakal capres ditentukan Dewan Syuro cq Anis Matta&Hilmi Aminuddin. PKB dan PBB tergantung SBY juga hehe (ketumnya ikut SBY)
PAN tergantung Amin Rais, Hatta Rajasa dan SBY (juga). Gerindra sudah pasti Prabowo. PDIP : apa titah Megawati saja. Hanura ya Wiranto
Nasdem dan PKPI siapa capresnya tergantung pada : suara pemilu. Lolos atau ke laut. Kalau lolos, tergantung kemampuan capres bayar tariff
Semua parpol berkepentingan besar dgn capres-cawapres. Kepntingn mrka itu yg menyebabkan tokoh terbaik bangsa TIDAK PERNAH dicapreskan
Karena tokoh jujur pasti tdk punya uang banyak. Tokoh berintegritas pasti tdk mau dagang sapi dgn mafia2, konglo2 cina korup & kapitalis
Artinya selama kita (RI) mengaut sistem demokrasi liberal, maka TIDAK akan pernah mempunya pemimpin yang terbaik.

Demokrasi Liberal = Menghancurkan Bangsa. Uang segala2nya. Media dibeli, opini direkayasa, bajingan jd pahlawan. Terpilih jadi pemimpin
Demokrasi Liberal yang kita anut sekarang BERTENTANGAN dgn PANCASILA dan UUD 45. Tdk sesuai dgn ideologi, budaya, kearifan bangsa
Bangsa /Negara Indonesia terjebak/terjerumus ke dlm sistem liberal (politik, demokrasi, ekonomi, budaya dst). Semua liberal. Hancurlah !
Kebebasan informasi tanpa kontrol/kendali adalah penyebab utamanya. RI jadi telanjang. Pikiran dan otak rakyat diserbu tsunami Informasi
Media2 massa bayaran, media2 milik konglo cina, mafia dan koruptor2 dengan mudah membangun opini sesuai kehendak & kepentingan mereka.
Akibatnya seorang penipu, tak punya kapabilitas dan integritas, korup, pengkhianat negara, malah dipuja2 seolah2 nabi atau juru selamat
Seorang penjahat besar dicitrakan seolah pahlawan. Koruptor BUMN/BUMD - APBN/APBD & penggelap uang bencana2 dipuja2 bagai dewa bersahaja
Pasti media : KOMPAS dan Granedia Grup, DETIK.COM dan Trans Corp, BERITA SATU dan First Media Grup dst..punya maksud busuk
Kompas, Berita satu, Detik.com dst memuat informasi positip dan puja puji Jokowi sehari rata2 32 berita !! Gila ga ? Hehe
Belum dihitung media grup atau afiliasi mereka. Apakah semua itu gratis ? NO ! Apakah semua itu sukarela ? NO !! NEHI ! Gila ga? Hehe
Jika mayoritas media dikoordinir dan diarahkan utk lambungkan nama seseorang sbg capres terbaik, apakah dia pasti capres terbaik? TIDAK
Malah sebaliknya, kita harus curiga dan teliti baik2 apakah tokoh yang dikarbit & dilambungkan media itu sbg capres terbaik. Selidiki
ika bukan karena kepentingan pemilik media, maka promosi besar2an tentang Jokowi yg dilakukan by design adalah karena UANG. BAYARAN.
J okowi lapar, jokowi makan, jokowi bersepeda, jokowi tidur, jokowi mimpi, jokowi akan, jokowi ingin, jokowi haus dll semua diberitakan !
Jokowi be'l, buang angin, bersengga** dan sejenisnya saja yg tdk dimuat media. Even2 dibuat khusus agar jokowi jadi di puncak berita
Hny orang malas berfikir, enggan memperhatikan, bodoh, IQ Jongkok dll, plus antek2 mafia, konglo cina & koruptor BLBI, yg membela Jokowi
Sisanya tentu rakyat awam yg mudah percaya & yakin bhw berita di media massa itu adalah sebagai kebenaran mutlak. Rakyat jd KORBAN OPINI
Seorang penjahat jadi pahlawan pujaan. Seorang pengkhianat negara dan amanah rakyat jadi pemimpin impian. Mau jadi apa negara ini ?
Lalu, siapakah capres terbaik ? Kita tunggu saja nanti setelah penetapan capres resmi diumumkan KPU. Setelah diketahui hasil pemilu
Lalu, apakah yang jadi kriteria atau dasar penilaian terhadap seorang tokoh disebut capres terbaik? Nanti akan kita bahas dan jelaskan
Tokoh terbaik, blm tentu nyapres. Tokoh yg ingin, belum tentu jadi. Tokoh ambisius blm tentu menang. Boneka Glembuk blm tentu disetujui
Siapa pun yang jadi capres dan menang jadi Presiden, semua atas kehendakNYA. Meski kita sbg manusia dan anak bangsa harus terus berupaya
ebab sesungguhnya kita hanya dapat berusaha, namun Tuhanlah yang menentukannya. Cucok kam rasa ? Hehehe...sekian. MERDEKA !!