Jawa Timur
Culture
Transportasi Tradisional
Rumah Adat
Bali
Pantai
Seni Budaya
Kuliner
Jokowi
Siapapun pemenang Pilpresnya
sebagaimana yang ditentukan oleh rekapitulasi suara di KPU,, kita harus
menghormatinya,,
Sikap kami, redaksi ‘beritatakbiasa’ sangat jelas,,
mendukung kebijakan Presiden terpilih, sebagaimana nasehat dari Ibunda Sinta
Nuriyah Abdurrahman Wahid.
Jika ada capres tidak menerimanya
dan mengajukan gugatan, biarkan ditempuh di jalur hokum. Sama sekali tidak
mengurangi keputusan KPU terhadap Presiden Terpilih.
Meski demikian, Proses Hukum
terhadap kecurangan-kecurangan di Pilpres 2014 ini harus dilanjutkan. Dan jika
ditemukan indikasi penyimpangan, maka pihak yang bersangkutan harus dihukum
secara setimpal. Karena ini adalah Negara Hukum.
Biarkan Jokowi menjabat sebagai
Presiden Republik Indonesia. Kami ucapkan Selamat kepada beliau. Tetapi,
sebagai Presiden sekaligus sebagai WNI, ia tidak lah kebal terhadap hokum. Jika
terindikasi terlibat dalam kecurangan Pilpres, maka harus juga ditindak secara
tegas.
Tingginya potensi penyimpangan lebih dari 20 Juta suara tidak mungkin diabaikan. Bagaimana mungkin di Papua,, Jumlah DPT > Jumlah Total Penduduk? Bagaimana Bisa???
Semakin besar penyimpangan,, semakin besar pula pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Seberapapun besarnya pihak yang terlibat,, hukum mesti ditegakkan.
Klo sekedar kisruh karena terlambat datangnya segelintir pemilih di Hong Kong dipermasalahin,, kenapa kasus yg jauh lebih besar dicuekin?
Ini bukan lagi sekedar siapa presidennya,, karena itu sudah gak penting. Yang terpenting adalah Kepercayaan sistem Demokrasi itu sendiri.
Tingginya potensi penyimpangan lebih dari 20 Juta suara tidak mungkin diabaikan. Bagaimana mungkin di Papua,, Jumlah DPT > Jumlah Total Penduduk? Bagaimana Bisa???
Semakin besar penyimpangan,, semakin besar pula pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Seberapapun besarnya pihak yang terlibat,, hukum mesti ditegakkan.
Klo sekedar kisruh karena terlambat datangnya segelintir pemilih di Hong Kong dipermasalahin,, kenapa kasus yg jauh lebih besar dicuekin?
Ini bukan lagi sekedar siapa presidennya,, karena itu sudah gak penting. Yang terpenting adalah Kepercayaan sistem Demokrasi itu sendiri.
Di Filipina saat ini, Mantan
Presidennya, Gloria Macapagal Arroyo, terancam dipidanakan, menyusul dugaan
kasus kecurangan Pilpres 2004. Meski sudah 10 tahun, kasus tidak dipetieskan,
karena kekuatan oposisi masih solid selama sepuluh tahun.
Nasib Gloria Macapagal Arroyo
dapat pula terjadi pada pemenang Pilpres kali ini.
Oke,, Selamat menikmati Jabatan Presiden, Pak Jokowi, ku tunggu janji-janjimu
By "@TrioMacan2000
1. Eng ing eeng ...Drajat Adyaksa Ses Dishub dan Setyo Tuhu Ketua Pengadaan Dishub DKI Jakarta ditetapkan sebagai tersangka korupsi Bus TJ
2. Mereka ditetapkan sbg TSK Korupsi pengadaan Bus Trans Jakarta sebesar Rp. 1.5 triliun bersumber dari APBD 2013 oleh Kejaksaan Agung
3. Dari hasil penyelidikan kejagung ditemukan adanya penyalahgunaan dlm kegiatan Pengadaan Armada Bus Busway senilai Rp. 1.000.000.000.000
4. Dan padaa Pengadaan Bus untuk Peremajaan Angkutan Umum Reguler senilai Rp. 500.000.000.000,- oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta
5. Penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup ttg terjadinya dugaan tindak pidana korupsi mark up dalam kegiatan Busway Trans Jakarta
6. Drajat Adyaksa Sesdishub DKI selaku Pejabat Pembuat Komitmen Pengadaan Bus Peremajaan Angkutan Umum Reguler & Busway
7. Setyo Tuhu selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang/Jasa Bidang Pekerjaan Konstruksi 1 Dinas Perhubungan DKI Jakarta, jadi Tersangka
8 . Apakah hanya 2 PNS DKI yg jadi TSK ? Ya tdk donk. Bisa naik ke Kadishub Udar Pristiono (mantan), naik lagi ke Wagub Ahok atau Gub Jokowi
9. Kemungkinan Kejagung usut kasus korupsi sampai ke Wagub Ahok dan atau Gub Jokowi sangat terbuka. Apalagi jika para saksi/TSK buka mulut
10. Publik, media dan KPK harus beri atensi kasus korupsi Dishub DKI Jakarta 1.5 Triliun yang melibatkan pengusaha Michael Bimo Putranto ini
11. Rakyat jangan lengah untuk mengawal kasus korupsi Dishub DKI ini karena pengusaha Michael Bimo Putranto adalah timses dan sohib Jokowi
12. Rakyat harus semakin waspada dan awasi jalannya proses pemeriksaan kasus korupsi karena Gub Jokowi terkesan mau cuci tangan dan berkelit
13. Jokowi berkali2 selalu mengatakan dirinya TIDAK KENAL Michael Bimo Putranto. Pernyataan Jokowi dibantah Bimo yg mengaku kenal dekat
14. Jokowi masih juga berbohong dengan mengatakan Michael Bimo Putranto benar2 tidak dia kenal dan hanya suka menjual2 nama Jokowi
15. Akibatnya, Bimo ngamuk. Dia datangi Jokowi ke Balaikota, sayang Jokowi kabur, hilang. Dia ngumpet entah dimana. Bimo hny diterima Ahok
16. Kepada Ahok yang menerimanya, Bimo protes dan tdk terima dituduh Jokowi sbg pengusaha yg suka ngaku dekat dan hny jual2 nama jokowi
17. Awalnya Ahok bela jokowi dgn nada keras, namun ketika dilabrak Bimo, Ahok cuak. Hilang nyalinya. Kenapa? http://t.co/L0BPymRyRd
18. Bimo Putranto dengan PDnya datangi Ahok yang sebelumnya banyak mengecam Bimo di media massa http://t.co/4OldWmR2Fn
19. Ahok pasti kenal Bimo Putranto, apalagi Jokowi. Bimo dan Jokowi sangat akrab lebih 10 thn karena Bimo salah satu ketua Timses Jokowi
20. Bimo juga teman karib Jokowi sebelum jdi walikota Solo sampai jadi Gub DKI Jakarta. Bimo berkali2 jadi timses Jokowi. Ga kenal? Haha
21. Bimo Putranto sangat dekat dgn Jokowi krna dia ketua timses Jokowi di Solo, pengusaha rekanan pemkot solo yg paling banyak dapat proyek
22. Jokowi kemana2 kalau ada acara hari libur pasti ditemani oleh Bimo Putranto. Masak jokowi menipu diri sendiri, menipu rakyat Indonesia?
23. Jokowi selalu terlihat bersama BIMO, kok tiba2 ngaku ga kenal? Kebanyakan minum panadol ya ? http://t.co/EOHjwnPRxZ
24. Mustahil Jokowi mau perintahkan Kadishub DKI kasih proyek pengadaan kepada BIMO kalau jokowi ga kenal. Itu hil yg mustahal hehe
25. Apalagi proyek pengadaan Rp. 1.5 triliun, pasti pengusaha yang ditunjuk atau direkayasa menang tender /lelang adalah sohib Jokowi. PASTI
26. Tapi ya sudahlah, akun2 nasi bungkus pasti ga terima kalau disebut Jokowi KKN, terima suap, korupsi, menipu, bohong atau memfitnah
27. BIMO teman akrab, rekanan, timses, donatur, kasir dan mitra korupsi Jokowi selama di solo. Ingat kasus korupsi hibah dana KONI Solo?
28. Patut diduga, petinggi PERSIS Solo yg berkolusi dgn jokowi ngembat uang hibah dana KONI 5 miliar dari 11.3 M hak KONI SOLO adalah BIMO
29. BIMO pengurus PERSIS ketua /presiden Pasopati, timses Jokowi yg paling militan, diduga Kolusi/Korupsi bersama Jokowi ngembat dana KONI
30. Sampai skrg kasus korupsi dana Hibah KONI tdk jelas juntrungannya, ga tahu berapa selisih uang yg hilang, antara 1-2 Miliar.
Oleh: Triomacan2000
1.Ingatkah anda ketika Effendi Anas Walikota Jaksel dipecat dari jabatannya setahun lalu? Apa penyebabnya ?
2. Februari 2013 lalu, Jokowi Ahok masih 'bulan madu' dengan eforia rakyat Jakarta yang mengelu2kan kedua tokoh pemimpin baru Jakarta
3. Rakyat tidak mau dengar alasan sebenarnya pemecatan Effendi Anas. Rakyat Jakarta hnya tahu Efendi bersalah, dan Jokohok tdk mgkin salah
4. Rakyat Jakarta sudah menganggap Jokowi Ahok seperti Nabi. Tdk boleh disalahkan dan mustahil berbuat salah. Efendi anas PASTI SALAH
5. Padahal Efendi Anas diberhentikan karena melawan dan menolak perintah Jokowi ahok untuk korupsi, melanggar aturan dan hukum. PECAT !!
6. Jokowi yang mudah berjanji dan suka cari simpati dgn program2 populis memaksa Walikota Jaksel keluarkan uang utk biayai kegiatan2 Jokowi
7. Jokowi bersikeras, Ahok ngotot, Efendi tetap menolak. Pecat ? Belum. Pemecatan Efendi Anas sebagai walikota Jaksel terjadi setelah itu
8. Yaitu ketika Efendi Anas TIDAK TERIMA sikap dan perilaku investor2 China yang mendikte pemprov DKI terkait proyek monorel dan MRT
9. Rapat di Balaikota itu awalnya dipimpin Ahok. Dia buka sebentar dan kemudian mempersilahkan investor china ambilalih pimpinan rapat
10. Keputusan Ahok itu tentu membuat kaget semua pejabat yg hadir. Masak pengusaha China yang dikasih kendali jadi pimpinan rapat ?
11. Ahok keluar ruangan rapat, investor China menjadi pimpinan rapat yang pesertanya pejabat2 pemprov DKI. Namun, pejabat2 DKI tetap sabar
12. Emosi pejabat2 DKI tidak tertahan ketika investor china tsb seenaknya saja mengambil keputusan2 rapat sepihak. Seolah2 sdh dapat mandat
13. Sebagai pejabat paling senior yang hadir dlm rapat tsb, walikota Efendi Anas, minta rapat diskors, dihentikan sampai wagub hadir kembali
14. Tapi, investor China itu dgn enteng mengatakan wagub DKI Jakarta Ahok sdh memberi mereka wewenang penuh utk ambil keputusan apapun !
15. Mendengar jawaban investor China yg kurang ajar dan sudah diluar batas itu, efendi anas langsung gebrak meja dan minta rapat dibubarkan
16. Rapat pun bubar. Investor China tdk terima, lapor ke Ahok, ahok ngamuk2 dan langsung bilang : anas efendi dicopot dari jabatan walikota
17. Efendi anas dicopot dari jabatannya selaku walikota Jakarta selatan. Dia protes, masyarakat betawi protes, tapi Jokowi ahok tdk peduli
18. Ahok panggil Efendi secara pribadi ke ruang kerjanya. Keputusannya : Effendi anas tetap dipecat demi menjaga kehormatan Wagub Ahok !
19. Efendi Anas tdk terima, tapi ahok membujuknya dan menjanjikan pemecatan itu hanya sementara dan nanti akan dipulihkan jabatannya
20. Akhirnya janji ahok ditepati meski terlambat 1 bulan. Selama 13 bulan Efendi anas menjabat kepala perpustakaan DKI jakarta sbg HUKUMAN
21. Pola atau gaya Jokowi ahok memimpin Jakarta memang seperti itu. Seolah2 dia tdk boleh disalahkan. Tdk boleh kehilangan muka meski salah
21. Nasib yang sama hampir terjadi pada sekda Pemprov DKI Jakarta yang nyaris dipecat karena sering menolak perintah Jokowi ahok yg salah
22. Wiryatmoko sdh lebih setahun jadi pejabat sementara sekda pemda DKI. Bolak balik mau diberhentikan karena berani melawan jokowi ahok
23. Namun, jokowi ahok tdk berani pecat Wiryatmoko krna tahu bhw mereka berdua memang salah. Jika sekda dipimpin Pejabat penjilat, mampuslah
24. Sdh tidak terhitung kesalahan, pelanggaran hukum dan korupsi dilakukan Jokowi ahok dan kroninya selama setahun jadi Pemimpin DKI Jakarta
25. Ingatkah anda ketika Jokowi ahok melanggar Perda tentang Kartu Jakarta Sehat (KJS) ? Pergub diterbitkan Jokowi ternyata nerugikan warga
26. Ingatkah anda ketika Jokowi baru menjabat Gub DKI Jakarta tapi sdh membagi2 3000an KJS kepada warga padahal anggarannya belum ada?
27. Drmn biaya KJS yang sdh diberlakukan Jokowi sedangkan belum dianggarkan DPRD /Pemda ? Uang siapa yg digunakan utk biayai KJS ilegal itu?
28. Ingatkah anda ketika Ahok memutuskan PT Askes menjalankan pendampingan progam KJS tanpa lelang? Hny ditunjuk langsung. Negara rugi 17 M
29. Ingatkah anda ketika DPRD DKI akhir 2013 mengajukan hak interpelasi atas pelanggaran dan korupsi jokowi ahok di KJS ? Apa yg terjadi?
30. Media massa bayaran/ milik cukong cina beking si petruk jokowi ahok menghajar DPRD DKI habis2an. Memfitnah DPRD DKI. Putar balik fakta
31. Sementera itu, si petruk Jokowi boneka cina itu dgn enteng bilang : "DPRD DKI memang tdk suka sama saya, mereka mau jatuhkan saya !"
32. Jokowi ahok bukan saja penipu, pembohong dan koruptor, tapi jago memelintir ucapan dan memfitnah orang lain dgn dukungan media massa
33. Jokowi ahok penipu ? YA ! Jokowi Ahok pembohong ? YA !
Jokowi ahok boneka mafia cina ? Absolutely !! Pengkhianat rakyat ? Ya !
34. Jokowi Ahok KORUPTOR ? YA !! Mau bukti ? Banyak ! Terakhir adalah korupsi di pengadaan bus transjakarta senilai 1.5 Triliun !
35. Jokowi Ahok koruptor sdh lama kami ketahui. Jokowi banyak kasus korupsi di Solo dan jika tdk dilindungi mafia cina. Sdh lama jadi NAPI
36. AHOK malah sdh jadi tersangka di Polda Babel karena penyerobotan hutan lindung dan tambang ilegal melalui 4 perushaannya. Kok macet ?
37. Silahkan cek deh sama Dirkrimsus Polda Babel (dulu AKBP Bobby). Jelas tertera nama Zhang Wan Xie alias Basuki Indra (nama asli ahok) TSK
38. Jokowi meski belum jadi TSK, korupsinya di penjualan aset pemda Solo yaitu Hotel Maliyawan yg sarat KKN sangat telak. Jokowi terima suap
39. Sayangnya, Lukminto penyuap Jokowi tiba2 mati mendadak di Singapura. Coba deh cari penyebabnya ..kenapa Lukminto mati mendadak ?
40. Tapi jangan harap si Petruk boneka cina Jokowi ini bisa bebas melenggang. Korupsinya di 13 kasus masih menggantung di Solo
41. Termasuk korupsi hibah KONI yg dialihkannya tanpa persetujuan DPRD dan KONI pusat sebesar 5 Miliar ke PERSIS SOLO, dan disunatnya 1.5 M
42. Siapa koruptor dana hibah KONI selain Jokowi? Namanya Michael Bimo Putranto yg juga timses Jokowi dan koruptor 1.5 T bus TransJakarta !
43. Entah sampai kapan Jokowi Ahok boneka cina ini bisa bertahan dan selamat dari jeratan hukum atas korupsi2nya. Bekingnya Mafia Cina
44. Cina sdh menjajah dan menggenggam Jakarta, selangkah lagi menjajah dan menindas Indonesia. Kekuatan mereka adalah media dan uang suap
45. Tggu cina berkuasa di RI, politik& ekonomi. Total. Dan sebagian dari kita, terutama kami, akan nyatakan perang kepada mereka. MERDEKA BUNG!
WAJIB DI SHARE….!!!
Pencitraan selalu berhubungan dengan gambaran ideal tentang sesuatu/seseorang. Politik adalah proses kompleks, sehiingga sulit sebenarnya untuk menentukan gambaran politisi ideal yang bagaimanakah yang cocok sebagai pemimpin. ( karena proses politik proses saling menjegal, pendukung-oposisi, deal-deal belakang layar, permainan anggaran, strategi saling menjatuhkan, dsb). Kecuali, gambaran politisi sebagaimana kita idealkan waktu remaja dulu, dimana waktu itu pikiran kita masih sederhana dalam berfikir politis.
Waktu remaja dulu, aku berfikir jika kelak akan menjadi Pemimpin, aku
takkan menggusur orang semau-maunya, sebagaimana lazimnya pemimpin yang
aku lihat di TV. Di TV digambarkann, rakyat miskin tinggal di rumah semi
permanen, rumah mereka harus tergusur. Miris !. Aku akan jadi pemimpin
anti penggusuran. Selain berfikir “anti penggusuran”, aku akan bangun
kota kesayanganku (Solo), seindah-indahnya. Kalo perlu semua Sungai di
Solo, yang penuh limbah industri, aku sulap bim salabim jadi bening,
sebening kolam renang.
Ketika memasuki jenjang mahasiswa, aku udah berfikir agak “maju”. Aku
akan jadi seorang pejabat yang bersih dari korupsi. Aku akan jadi
pemimpin yang disegani, pers akan meliputku sebagai pemimpin handal,
amanah, anti korupsi, dan benar-benar berkomitmen kepada rakyat. Aku
akan berkeliling menemui rakyat miskin, dan mendengarkan aspirasi
mereka, lalu mewujudkan semua impian mereka. Mereka mau apa, bim sala bim,
uang dari pemerintah akan langsung cair untuk membantu mereka. Ketika
aku mati di saat menjadi pemimpin, maka semua orang akan menghadiri
pemakamanku dan menangisi kepergianku.
Selepas kuliah, mulailah terjadi fase berfikir realistis. Aku mulai
berfikir takkan mungkin menjadi pemimpin, jika aku tak punya “relasi”.
Untuk meningkatka relasiku, aku harus pintar komunikasi, jadi daya tarik
orang, dan pintar berorganisasi, tapi semuanya tak ku miliki. Semakin
dewasa, semakin detail lah apa-apa yang hanya sedikit yang kuketahui di
masa lampau. Bahwa, dalam proses politik apapun, strategy loby itu sgt
penting. Untuk jadi karyawan di swasta pun, harus pintar2 menjawab,
karena jawaban kita dalam wawancara itu bagian dari loby itu untuk
bekerja di kantor bersangkutan. Apalagi loby-loby dalam politik. Tak
mungkin lah, Jokowi tiba2 njedul mencalonkan diri jadi Gubernur
DKI. Awalnya kan, Mobil Esemka dulu. Dulu waktu kemunculan Mobil
Esemka, secara tak sengaja ku temukan komentar di fb “Modal buat nyagub di DKI”, kirain orang itu omong asal, tapi beberapa bulan kemudian ternyata kok bener ya? :D , itulah deal-deal di belakang yang tak mugkin kita ketahui.
Politik itu bukan lah Sepakbola di Tv2, semua strategi, permainan, tackling, diving,
dll, dapat kita saksikan di depan mata kita langsung. Berita politik di
media yang sampai di kepala kita hanya permukaan gunung es, dimana
bagian bawah yang tak kita ketahui justru lebih menentukan daripada
sekedar apa yang kita lihat di permukaan.
Semakin dewasa semakin sadar juga, bahwa segala sesuatu PASTI butuh
dana. Jadi, anggapan bahwa dulu untuk membangun sungai2 jorok di Solo, bim salabim
jadi bersih, sirna sudah. Tak mungkin bagiku untuk membersihkan waduk
ria-rio,, eiitt salah, untuk membersihkan sungai Jenes-Solo, tanpa
anggaran. Juga pemikiran bahwa menggusur PKL atau rumah semi permanen,
takkan mudah dicegah. Aku juga sadar, bahwa untuk membangun ini itu,
semuanya sudah direncanakan dalam rencana pembangunan, agar alokasi
keuangan daerah dapat teralokasikan secara sistematis dan tepat sasaran.
Tak mungkin lagi berfikir, bahwa pemerintah itu kayak Doraemon, “aku ingin begini, aku ingin begitu, semua dikabulkan dnegan kantong ajaib” hehe. :)
Pemimpin itu bukan lah Person, tapi Tim. Untuk jadi pemimpin, harus
berjuang dulu, lewat lobi-lobi, dari lobi tingkat partai, sampai lobi ke
orang-orang berpengaruh (dari preman sampai pengusaha) untuk menyokong
pencalonan kita sebagai kepala daerah. Dan, yang namanya loby, sudah
tentu kita tak cuman modal mulut doang. Semuanya harus ada deal-deal antara kita dan mereka. Tak ada Makan Siang Gratis. Seorang calon pemimpin, SIAPAPUN JUGA, butuh pencitraan. Lihat saja photo2 caleg di pinggir-pinggir jalan, hampir semuanya pasti eksyen tersenyum, kagak ada yang eksyenn judes. Pencitraan itu dapat dibangun lewat sarana iklan atau dengan sarana berita.
Ada kalanya seorang pemimpin yang buta media, dengan latah melakukan
penggusuran. Maka, yang terjadi adalah keesokann harinya Judul Headline
Surat Kabar Lokal akan seperti ini “Rakyat Kampung Duku akan Perjuangkan Hak Hidup mereka Melawan Penggusuran Pemkot“. Coba kalo si pemimpin dekat ama Media, Judul beritanya akan jadi lain, “Walikota berencana lakukan Normalisasi Pemukiman Kumuh“.
Judul, settingan tulisan di Surat Kabar, dan pemilahan sumber, pasti
sangat berpengaruh pada opini yang terbentuk ke pemirsa. Di musim
banjir, judul berita “Gubernur persiapkan 2000 sumur resapan untuk kurangi banjir“, jelas berbeda pengarahannya denga judul bombastis “Gubernur tanggulangi banjir DKI dengan hanya bangun 2000 sumur dengan anggaran 150 M“.
cara utuk menentukan apakah sebuah media itu melakukan pencitraan,
dengan mengukur, apakah dengan memberitakan seseorang akan menimbulkann
reaksi emosional (simpati/antipati) kepada yang bersangkutan atau tidak.
Jika terjadi simpati, maka telah terjadi pencitraan positif,
sebaliknya, timbul reaksi antipati, maka telah terjadi pencitraan
negatif. Olga Syahputra, sebagai artis yang punya gaya hidup beda,
karena memposisikan diri sebagai host di suatu acara Reality Show,
ia harus mengunjungi pemukimann kumuh, menangis bersama mereka, maka
pemirsa akan mudah mengambil simpati ke si Olga. Tapi sebaliknya, jika
yang ditayangkan adalah gaya glamour hidup si Olga, maka yang muncul
adalah sikap antipati. Manusia itu bukan lah malaikat yang selalu
bertindak benar. Karena manusia, tempat berkumpulnya segala kebaikan
sekaligus kesalahan.
Coba bayangkan, peran si Olga Syahputra diganti denga seorang Gubernur.
Gubernur, yang terobosan ke pemukiman2 kumuh sebagaimana dilakukan Olga.
Menengok mereka, memberikan sejumlah uang untuk orang yang meminta
(uang Pemda tentunya), lalu mendatangi danau yang kumuh disulap, jadi
bening ning, maka akan muncul reaksi emosional yang lebih besar daripada
sekedar si Olga. Apalagi komentar ceplas-ceplos dan gaya
nyantai si gubernur menghadapi si wartawan. jadi blusukan itu bisa
dipandang sebagai bagian rasa merakyatnya seorang pemimpin. Tapi tak
bisa disalahkan pula, jika ada yang beranggapan tak lebih dari program “Reality Show” yag dikemas dengan cara yang berbeda, dengan dana tak dari produser, tapi dari APBD DKI.
Pencitraan itu akan mudah merasuk ke rakyat awam, dimana gambaran
tentang pemimpin yang ideal, sebagaimana gambaran pemimpin yang ideal
selagi kita masih duduk di bangku SMU. Tak berfikir tentag tarik menarik
kepentingan, tak ada deal-deal, Media menulis apa adanya
sesuai dengan kualitas kepemimpinan kita, dst. Yang perlu kita ingat,
dulu Pak Harto langgeng memimpin Indonesia karena apa? karena ia telah
dicitrakan sebagai pemimpin sukses dalam melakukan pembangunan di
Indonesia, lengkap dengan penghargaan-penghargaan, baik dari luar
negeri, apalagi dari dalam negeri. Ketika itu, melihat wajah Pak Harto
saja, cintanya sudah minta ampun. Tapi, pencitraan itu tiba2 berbalik di
tahun 98, dari Pak Harto yang digambarkan sebagai bak malaikat, menjadi
Pak Harto yang bak iblis.
Sekian, semoga bermanfaat.
Banyak
artikel yang mengaitkan antara Jokowi dan Banjir, baik itu dari
pendukung maupun kritikus Jokohok. Para Kritikus tidak selamanya
menyalahkan Jokohok terkait banjir Jakarta. Sebagian Kritikus malah
bersifat realistis. Karena mereka juga menyadari bahwa Jakarta itu bisa
dibilang wilayah ‘muara’, maka tak heran kalau terjadi banjir. Kalau mau
bebas dari banjir, maka Jakarta perlu dipindahin saja ke Kota Bogor.
Tak tepat sasaran jika mengkritik Jokohok melalui banjir yang terjadi di
Jakarta saat ini.
Tapi
tak etis pula jika berusaha menangkal kritik-kritik terhadap
kepemimpinan Jokowi secara membabi-buta dan tidak tepat sasaran juga.
Seperti gambar peta titik banjir yang diupload oleh salah seorang pendukung Jokohok sebagaimana berikut ini;
Katanya di tahun 2013, banjirnya segini besarnya >>

Dan di tahun 2014 cuman segini >>

Tuh
dikit kan? Hehe.. sebenarnya dua peta di atas dikeluarkan dari pihak
yang berwenang yaitu pihak BPBD DKI dan BNPB, tetapi penafsiran terhadap
data pun seharusnya dengan cara benar pula. Coba saja kalo gambar
terakhir benar-benar dikeluarkan sebagai peta resmi pendistribusian
bantuan saat ini, BPBD DKI bisa dikepung orang se-Jakarta. Xixiixi
Harus fair
lah dalam bermain. Ketika banjir datang, para kritikus tak boleh
menjadikan banjir sebagai senjata, karena tidak tepat katanya. Tetapi
jika terjadi sebaliknya, Jakarta tak banjir,
maka logikanya tak tepat pula jika menjadikannya sebagai indicator
keberhasilan Jokohok. Jika Jakarta tak banjir, paling segala sesuatu
yang berhubungan dengan kebijakan Jokowi dikatakan sebagai kunci
menanggulangi banjir, dari pelarangan topeng monyet sampe plat nomer ganjil-genap yang tak jadi. hehe
Perkaranya sekarang ini bukan perkara “Jokowi Bersalah Atas Banjir Jakarta”.
Jadi tulisan ini tidak memperkarakan Jokowi dengan banjir, karena hal
ini sudah ditulis oleh puluhan kompasianer. Kami hanya mau “melihat sekilas ke belakang” saja, tentang sebab besarnya ekspektasi warga Jakarta terhadap Jokowi.
Ekspektasi adalah harapan atau keinginan dari para customer
terhadap kualitas pelayanan yang akan diberikan kepadanya. Ekspektasi
ini dapat berupa ekspektasi dari para pelanggan restoran terhadap
kualitas pelayanan yang diberikan kepadanya, ekspektasi dari pendukung
tim bola terhadap kualitas permainan tim kesayangannya, atau ekspektasi
dari rakyat terhadap kualitas kebijakan pemimpinnya.
Tak
dapat dibayangkan bagaimana mungkin Jokowi yang tahun 2010’an tak
dikenal oleh orang-orang Jakarta, tiba-tiba namanya muncul sebagai
pemenang mutlak pada Pilkada tahun 2012. Kenapa kebanyakan warga DKI
memilih dia sebagai gubernur DKI? Karena ekspektasi terlalu tinggi yang diberikan warga kepadanya di Pilkada tahun lalu.
Dalam
benak orang awam, kualitas pemimpin sangat menentukan maju tidaknya
rakyat yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya berkualitas, otomatis warga
yang dipimpinnya akan makmur sejahtera. Jika pemimpinnya cacat, maka warga tidak akan sejahtera. Mereka tak terlalu dipusingkan dengan banyak variable
keberhasilan daerah, satu-satunya variable yang mereka nilai adalah
kualitas pemimpinnya, yang mereka nilai sendiri berdasarkan apa-apa yang disampaikan kepada mereka (dari
media tentunya). Mereka tak pikirkan seberapa laju pertumbuhan ekonomi,
seberapa potensi daerah, seberapa besar APBD & PAD’nya, mereka
itu hanya memikirkan satu variable keberhasilan daerah, yaitu
PEMIMPINNYA. Apalagi ditambah judul bacaan yang ‘menyesatkan’, seperti “Sri Supeno Bawa Kota yang dipimpinnya menuju Kemajuan bla bla bla” dsb.
Tiba-tiba, mereka kedatangan orang, (yang digadang-gadang media massa), luar biasa sebagaimana gambaran ideal mereka selama ini;
1. Walikota terbaik ketiga sedunia. >> http://www.voaindonesia.com/content/jokowi-raih-penghargaan-walikota-terbaik-ketiga-dunia/1579686.html
2. Walikota yang bersih dan anti korupsi >> http://www.rmol.co/read/2012/04/06/59854/Jokowi,-Sosok-Ideal-yang-Mampu-Terapkan-Birokrasi-Bersih-dan-Melayani-
3. Walikota yang suka blusukan dan Merakyat >> http://news.detik.com/read/2012/12/27/124846/2127805/10/5-aksi-merakyat-ala-jokowi
4. Pemimpin yang berpenampilan sederhana, apa adanya, terbuka dan tidak selalu menunjukkan kekakuan birokrasi.
5. dan sedabrek kualitas2 lain yang disandangnya.
Dengan pemimpin seperti ini, maka banyak yang mengharapkan Jakarta bim salabim jadi kota yang maju, dan semua permasalahan dapat teratasi dengan baik, termasuk masalah banjir. >> http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/21/17300060/Warga.Kampung.Apung.Berharap.pada.Jokowi
Apalagi
hal itu diikuti dengan “kesanggupan” Jokowi untuk memimpin DKI. Dengan
membawa bekal “keberhasilan”nya memimpin Solo, ia akan bebaskan Jakarta
dari banjir (dan kemacetan) hanya dalam rentang waktu 3 tahun. >> http://www.rmol.co/read/2011/06/28/31483/Walikota-Solo . plus penghargaan-penghargaan yang diraihnya berkat kemajuan kota Solo di bawah kepemimpinannya. >> http://www.merdeka.com/peristiwa/jokowi-tinggalkan-banyak-warisan-di-solo-tentang-jokowi-7.html Orang-orang luar Solo kagum dan mengira bahwa Solo telah berubah ke arah kemajuan di tangan Jokowi. (meski orang Solo sendiri banyak yang bingung, dimana ya letak kemajuan kotanya? Hehe).
Ditambah lagi katanya walikota
ini digambarkan punya terobosan-terobosan luar biasa dalam memajukan
kotanya. Lihat saja dengan inisiatifnya membuat mobil nasional dengan
potensi daerah yang dimilikinya, Esemka, dengan melibatkan para siswa SMK saja, produksi mobil dalam negeri akan dapat bersaing dengan mobil-mobil import. (begitu lah gembar-gembornya media waktu itu, hehehe ). Siapa yang tidak berekspektasi tinggi jika dihadapkan pada pemimpin SEHEBAT ini??. Para intelek saja dapat terpengaruh, apalagi orang-orang awam, yang daya kritisnya rata-rata lebih rendah daripada si intelek.
Benar saja apa dalam benak rakyat, sesaat setelah terpilih jadi gubernur, Jokowi langsung membuat GEBRAKAN brak brak brak!!!
(istilah yang diberikan media kepada Program2 Pemda pimpinan Jokowi
dengan istilah GEBRAKAN, sedang Pra-Jokowi cukup dikasih embel2
KEBIJAKAN, antara Kebijakan dan Gebrakan, padahal 2 istilah itu
sebenarnya essensinya sama kok, hehehe ). Lihat saja GEBRAKAN yang dilakukan Jokowi terkait dengan penanggulangan banjir sebagaimana berikut ini;
1. Pengerukan
Waduk Pluit. Program ini dipercaya untuk menanggulangi banjir, padahal
waduk Pluit hanya dikeruk 1 sampai 2 meter, itu saja dengan 10 hektar
dari total 80 hektar luas waduk. Lalu dibuat taman, biar kelihatan
indah. BELANDA PERLU BELAJAR KEPADA JOKOHOK. Sehebat-hebatnya orang
Belanda dalam urusan HIDROLOGI, mereka jelas tak mungkin bisa seperti
Jokohok, menanggulangi banjir dengan membuat TAMAN, kan? Hehehe
2. Normalisasi Waduk Ria Rio. Meski waduk ini berukuran seupil, tetapi DIPERCAYA dapat mencegah Jakarta dari bahaya banjir. >> http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/11/04/5/192212/Pengerukan-Waduk-Ria-Rio-Antisipasi-Banjir . meski waduk ini besarnya 1/10 waduk Pluit, tetapi normalisasi 2 waduk ini sama-sama membutuhkan dana 1 Triliun.
3.
Melihat kembali bagaimana Jokowi, dari sebelum terpilihnya jadi Gubernur DKI hingga masa pra-banjir kemaren, maka LETAK PERMASALAHANNYA bukan terletak pada Banjirnya an sich,
tetapi pada ancaman kehancuran rekayasa opini (Politik Pencitraan) yang
selama ini benar-benar dijaga oleh media-media pro-Jokowi untuk
mensukseskannya di Pilpres 2014 mendatang.
Karena untuk mencapai hal itu, maka selama ini ada 2 hal yang mereka lakukan;
1. Membuktikan
bahwa Jokowi sanggup memimpin DKI, dengan melakukan sosialisasi
besar-besaran terhadap segala program yang dilakukan oleh Pemprov
setempat. Sehingga program-program tersebut dapat berjalan sesuai dengan
RKP (Rencana Kerja Pemerintah) yang disusunnya. Selain itu perlu juga;
2. Memperkenalkan
diri sebagai pemimpin merakyat, sederhana, terbuka, apa adanya, cerdas,
hingga perlu terjun langsung di lapangan, dan bersosialisasi dengan
wartawan dan masyarakat kalangan bawah. Hal ini sering menyebabkan
kurangnya koordinasi antar instansi, bahkan koordinasi dengan kepala
daerah sekitar Jakarta (Depok, Tangerang, Bekasi) sebelum musim hujan,
serta terpuruknya program-program yang direncanakannya, termasuk program
penanggulangan banjir. >> http://www.koran-sindo.com/node/349234
Mempercayai bahwa seorang pemimpin (siapa saja pemimpinnya) bisa
mengatasi banjir Jakarta sama saja dengan mempercayai obat-obat
“superkuat” yang dijual dipasar-pasar loak, termasuk pemimpin kayak
Jokowi ini. Lihat saja bagaimana para penjual dengan gaya meyakinkan
dapat mempengaruhi para pembeli untuk mempercayai dan membeli
obat-obatan yang dijualnya. Kalo tak percaya, coba deh bandingkan LEBIH
MEYAKINKAN MANA cara ngomongnya, antara para penjual obat di pasar loak
sama penjual obat konvensional di apotik-apotik??. Paling obat kuat yang
diberikan sama apa yang dijual di toko-toko obat, tetapi ditambahin
dengan ungkapan2 meyakinkan untuk menambah efek Placebo.
Jokowi
dalam masalah banjir ini tak perlu disalahkan, karena ia bagaikan “obat
superkuat”nya, hanya pasif belaka, sedangkan media-media sebagai
penjualnya. Sebagai penjualnya, kita tak perlu menyalahkan mereka,
karena hanya dengan cara seperti itu, mereka dapat makan. Kita juga tak
dapat menyalahkan pembelinya, karena mereka tak pernah punya pengalaman dikibulin penjual. Biasalah si penjual suka ngibul,
katanya obat yang dijualnya lebih manjur dari obat2an konvensional,
karena obat yang dijualnya ber-merek “BLUSUKAN & GEBRAKAN”.
Sebenarnya sama saja, cuman yang biasa ditawarkan dengan cara lebih
meyakinkan untuk menambah efek Placebo.
“Hendaklah Kamu melihat apa yang terjadi di masa lalu, sebagai pelajaran di masa depan”. Sekelumit nasehat dari Tuhan untuk kita semua tentang pentingnya sejarah. Tak kurang dari Soekarno sendiri menyandikannya dengan ungkapan “Jasmerah” (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Dalam kata mutiara bahasa Indonesia ditemukan ungkapan unik “Hanya Keledai yang jatuh pada lubang yang sama”. Artinya kita harus berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan yang telah kita perbuat di masa lalu. Yang dikehendaki oleh kata2 mutiara tsb adalah agar kita punya memori jangka panjang, bukan memori jangka pendek. Gembar-gembor Kebangkitan Mobil Nasional (Mobnas) sendiri mudah dilupakan, dan kini nasibnya udah mangkrak, gagal uji emisi, tidak dipakai satu pun kepala daerah sebagaimana yg digembar-gemborkan dulu.
Dalam
konteks Jakarta, rakyat DKI sendiri sudah melupakan Foke, dan hujatan
dan kritikan yang ditujukan kepadanya ketika beliau menjabat sebagai
Gubernur DKI Jakarta, akibat kegagalannya mengatasi banjir. Tulisan ini
mengambil sikap “Positif thinking”
terhadap kepemimpinan para Gubernur Jakarta, termasuk dalam
Kepemimpinan Foke ataupun Jokowi. Karena tiap Pemimpin daerah, siapa
saja, PASTI mempunyai program-program yang seluruhnya dibiayai oleh APBD
setempat, atau dengan bekerjasama dengan donator barat (seperti JRF)
dalam melakukan pembangunan, baik fisik maupun non fisik.
Termasuk
dalam penanganan banjir, siapapun pemimpin Jakarta, PASTI sedikit
banyak membuat kebijakan terkait dengannya. Dana APBD dari pemerintah ke
Dinas PU dan BPBD/BNPB, pasti cair terkait dengan penanggulangan
bencana banjir. Program-program
tersebut dari Gubernur satu dilanjutkan dengan Gubernur lainnya, secara
berkesinambungan. Sehingga siapapun Gubernurnya, tak mungkin membangun
(dalam hal penanggulangan bencana banjir) dimulai dari titik 0. Bahkan
pada tiga tahun pertama kepemimpinan Foke, menganggarkan 1, 677 T untuk
membiayai Program penanggulangan banjir.
Tak
perlu lagi dijelaskan apa saja yang telah dilakukan oleh Jokowi, karena
kami sangat yakin, apapun program yang dicanangkan oleh Jokowi, sudah
dijelaskan secara gamblang
oleh media-media konvensional, baik cetak maupun elektronik. Jangankan
Program-programnya, Jokowi tertawa, haru, nonton konser, naik bis,
menghadiri ini menghadiri itu, saja bisa dijelaskan secara gamblang oleh
media, apalagi terkait program-progam yang tengah dijalankannya. Hal
ini berbeda ketika pada masa Foke, jangankan Foke kentut, Foke jungkir
balik bangun program dengan serap anggaran Triliunan sekalipun belum
tentu dilirik media.
Program-program
penanganan banjir yang dilakukan oleh Foke salahsatunya adalah
tembusnya Kanal Banjir Timur (KBT) ke Laut. Dalam waktu 2 tahun, ia
dapat membebaskan tanah 4.600 m2 . KBT tembus ke Laut Jawa
pada akhir 2009 , berfungsi sepajang 23,57 kilometer, dengan lebar
bervariasi antara 100 -200 meter dan kedalaman 3,7 meter. KBT mampu
mengatasi kawasan genangan air di Timur dan Utara Jakarta. Selain itu,
data dari dinas Pekerjaan Umum menyatakan bahwa pada masa ini,
Pemerintah DKI telah membebaskan 18 dari 78 kawasan genangan air, dan
telah membebaskan 33 dari 106 genangan air di Jalan. >> http://www.suarapembaruan.com/home/foke-mengaku-serius-tangani-banjir/234
Pemprov
DKI pada masa Foke juga melakukan hal yang sama dengan apa yang
dilakukann oleh Jokowi. Pada masa Foke dilakukan normalisasi sungai
dengan melakukan pengerukan sungai, pengerukan 56 saluran air,
Pembangunan pengendalian banjir di 18 lokasi, rehabilitasi waduk dan
situ, pembangunan waduk pluit, dan pembangunan saluran terowongan
penghubung Kanal Banjir Barat (KBB) dan KBT. >> http://news.okezone.com/read/2010/10/07/338/380115/fauzi-ahlinya-bowo-bicara-soal-banjir-jakarta
.Hasilnya, Foke mengklaim sebanyak 40 titik genangan dapat dihilangkan,
tinggal 60 titik, dan pada akhir pemerintahan Foke, ia mengklaim
tinggal tersisa 18 titik lagi. >> http://f1nusia.blogspot.com/2012/04/program-kerja-foke-dan-nara.html .
Tak
hanya pada bidang pembangunan fisik dalam penanganan banjir, tetapi
dalam hal melakukan rencana kontinjensi atau aktivitas pengurangan
dampak dari risiko bencana, telah dirancang oleh Fauzi Bowo, bahkan
sebelum musim hujan datang. Salah satunya adalah, menggelar Apel yang
diikuti oleh 6.844 personil gabungan dari Satpol PP, TNI/Polri,
Camat/Lurah, dan dinas-dinas terkait pada November 2011. >> http://megapolitan.kompas.com/read/2011/11/30/10264072/Foke.Jakarta.Siap.Hadapi.Banjir .
Fauzi
Bowo juga menginstruksikan kepada seluruh jajaran Walikota di lima
kotamadya di Provinsi DKI dan Dinas Pekerjaan Umum DKI untuk menganalisa
dan mengkaji seluruh ancaman dan kerentanan terhadap bencana banjir di
semua wilayah-wilayahnya masing-masing. Analisa itu terutama ditujukan
untuk mengkaji penyempitan dan pendangkalan di sungai-sungai yang
mengalir melewati lima kotamadya DKI. >> http://www.sindotrijaya.com/news/detail/291/foke-instruksikan-seluruh-wali-kota-analisa-banjir#.UtjPU_tESho Meski demikian, Jakarta tetap saja banjir, dan pada akhirnya, secara gagah berani, Foke mengaku gagal menangani banjir Jakarta.
KLAIM-KLAIM
telah melakukan ini melakukan itu, memang kecenderungan SEMUA pemimpin
yang sedang atau telah memimpin sebuah daerah, termasuk Foke ataupun
Jokowi. Jokowi sendiri ketika mau meninggalkan Solo, mengklaim bahwa
titik rawan bencana banjir di Solo hanya tinggal satu, meski hal ini
tidak sesuai dengan fakta yang ditemukan di lapangan. >>http://www.tempo.co/read/news/2012/03/22/228391849/Solusi-Banjir-Jakarta-ala-Jokowi
. Klo Jokowi sekarang mengklaim telah menghilangkan beberapa titik
banjir di Jakarta, maka hal itu sebenarnya sama pernah dilakukan oleh
Foke ketika memimpin Jakarta, atau pernah ia lakukan di Solo. Semestinya
BNPB menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata “telah berhasil menghilangkan titik banjir”, dan dijelaskan secara konkret titik-titik mana saja yang telah dihilangkan, apakah ada jaminan bahwa titik itu tak lagi banjir jika hujan deras melanda Jakarta?. Sehingga, pemimpin tak lagi omong sembarangan hanya bertujuan ber-apologi semata.
Klaim telah bangun ini bangun itu, melakukan ini melakukan itu,
biasanya dilakukan agar Pemimpin Daerah tak disalahkan ketika banjir
melanda wilayahnya. Pada masa Jokowi saat ini, kita tak usah heran jika
Media Massa, selain menayangkan banjir, juga menayangkan apa saja yang
telah dilakukan oleh Jokowi, dari normalisasi waduk, pengerukan sungai,
sampai penggusuran-penggusuran rumah di Puncak. Dalam Komunikasi
Politik, hal ini berarti mereka hendak mengatakan kepada warga DKI bahwa
mereka telah MAKSIMAL, dalam melakukan pencegahan terhadap banjir.
Jika
pada masa Foke saja, dimana pers begitu keras terhadap pimpinan Pemprov
setempat, dapat mengklaim keberhasilan menghilangkan titik-titik
banjir, apalagi pimpinan Pemprov dimana pers begitu lunak terhadapnya,
bahkan sangat dimanjakan. Pers dimanapun punya pengaruh sangat besar,
bahkan di Negara dengan tingkat pendidikan tinggi seperti di AS, Pers
sendiri disebut dengan “4th Power” (kekuatan Keempat), karena begitu besarnya tekanan dan pengaruh pers. Apalagi, di Negara berkembang, dimana tingkat pendidikannya relative rendah, sehingga sangat mudah dikontrol opininya.
Ketika
musim hujan turun, Jakarta Banjir, banjir kritik, bahkan hujatan
ditujukan kepada Foke. Berikut ini adalah contoh judul-judul Media Massa
Online, menghujat kepemimpinan Foke ketika banjir melanda Jakarta;
- “Ada yang Tahu Dimana Foke Saat Banjir Kepung Jakarta” >> http://www.tribunnews.com/nasional/2010/10/26/ada-yang-tahu-dimana-foke-saat-banjir-kepung-ibu-kota
- Komnas HAM Tak Pernah Lihat Prestasi Foke >> http://news.liputan6.com/read/386907/komnas-ham-tak-pernah-lihat-prestasi-foke
J K: Gagal Bangun Jakarta, Foke Tak Usah Ikut Pilgub Lagi >> http://nasional.kompas.com/read/2012/02/23/17494547/JK.Gagal.Bangun.Jakarta
- Foke Gagal Atasi Banjir dan Macet >> http://korankota.co.id/page/berita/foke-gagal-atasi-banjir-macet
-
Dan
masih banyak lagi judul-judul yang berintikan pada kegagalan Foke
menangani Jakarta, akibat banjir yang melanda ibukota. Tetapi hal yang
sama sama sekali tak terjadi pada Jokowi. Bahkan, banjir bandang di
Jakarta saat ini fakta yang sebenarnya terjadi di Jakarta jauh lebih
parah daripada apa yang disuguhkan di media.
Langganan:
Postingan (Atom)





Recent Comment